#Kesehatan#VirusKorona

Alat Tes Covid-19 'CePAD Antigen' Masuk Tahap Produksi

( kata)
Alat Tes Covid-19 'CePAD Antigen' Masuk Tahap Produksi
Alat Tes Covid-19 'CePAD Antigen' besutan Unpad. Foto: Dok. Unpad


Jakarta (Lampost.co) -- Ketua Tim Riset Cepad Antigen, alat tes covid-19 melalui swab antigen buatan Universitas Padjadjaran (Unpad), Muhammad Yusuf mengatakan, alat yang pertama kali dikenalkan sejak Mei lalu ini sudah masuk ke tahap produksi oleh mitra industri, yaitu PT. Pakar Biomedika.

“Alhamdulillah, sekarang sudah mendapat izin edar sebagai alat kesehatan dalam negeri oleh Kemenkes,” kata Yusuf, dalam keterangannya, Rabu, 9 Desember 2020.

Dalam menunjang penanganan covid-19, Yusuf dan tim terus melakukan pengembangan produk Cepad. Dimulai sejak April 2020, tim berfokus pada pengembangan, salah satunya dari sisi akurasi.

Diakui Yusuf, banyak hambatan yang dihadapi tim saat mengembangkan Cepad. Satu di antaranya adalah menguji produk terhadap sampel virusnya secara langsung. Di awal, tim baru melakukan uji kepada protein antigen virusnya.

Penelitian pun mendapat dukungan dari beberapa laboratorium penguji spesimen covid-19. Lewat dukungan tersebut, Yusuf dan tim bisa melakukan pengujian produk dengan sampel klinis secara langsung.

“Awal-awal kami juga menemui kendala, sensitivitasnya rendah. Tapi, alhamdulillah, kami banyak di-support sama peneliti lain,” jelasnya.

Hasilnya, sensitivitas Uji Cepad saat ini sudah 93 persen. Perolehan hasil ini merupakan peningkatan dari sebelumnya di bawah 10 persen, hingga 70 persen.

 

Proses pengambilan Uji Cepad saat ini masih menggunakan sampel nasofaring (swab). Seperti swab tes PCR, pengambilan sampel diambil dengan swab nasofaring dengan menusuk lubang hidung dan tenggorokan.

Sampel kemudian dicampurkan ke dalam cairan dan diteteskan pada CePAD dan dalam waktu 20 hingga 30 menit hasil swab antigen sudah didapatkan. Ke depan, Yudi dan tim akan mengembangkan versi kedua Cepad yang bisa digunakan secara mandiri.

Sampel yang diambil tidak lagi lewat hidung, tetapi bisa menggunakan spesimen air liur. “Jadi nanti orang bisa menggunakannya secara mandiri, tidak perlu bantuan nakes,” kata Yusuf.

Sejumlah produk inovasi yang dihasilkan oleh peneliti Universitas Padjadjaran didistribusikan untuk membantu penanganan Covid-19, khususnya di Jawa Barat. Produk inovasi tersebut difasilitasi oleh program Bakti Inovasi Indonesia Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Produk inovasi Unpad yang diserahkan antara lain, Uji Cepad: Covid-19 Antigen dan Tehdia. Inovasi Uji Cepad dikembangkan oleh tim peneliti yang diketuai Dosen Kimia FMIPA Unpad Muhammad Yusuf, PhD. Sementara “Teh Dia” merupakan produk inovasi teh celup alami hasil kombinasi daun teh hijau dengan daun stevia yang dikembangkan Guru Besar Fakultas Farmasi Unpad Prof. Keri Lestari, M.Si., Apt.

Menristek, Bambang Brodjonegoro mengatakan, inovasi ini diharapkan dapat menekan angka impor produk jadi di Indonesia, khususnya alat-alat kesehatan. Jika melihat data, sebanyak 94 persen pemenuhan kebutuhan alat kesehatan di Indonesia berasal dari impor.

“Impornya ini tidak tanggung-tanggung. Dari mulai alat-alat canggih, sampai kepada alat sederhana,” ujar Bambang.

Selama pandemi, impor alat kesehatan menjadi meningkat. Hal ini kemudian memunculkan kesadaran ilmuwan untuk mengembangkan alat kesehatan sendiri. Diharapkan, kesadaran ini dapat membentuk ekosistem baru di bidang inovasi alat kesehatan.

“Kalau kita tidak terbiasa untuk membuat sesuatu karena sudah keenakan melakukan impor, ekosistemnya tidak terbentuk,” ungkapnya.

Untuk itu, Kemenristek/BRIN sendiri berupaya mengakomodasi beragam inovasi yang sudah dihasilkan peneliti Indonesia untuk diaplikasikan secara langsung di masyarakat. Untuk produk Uji Cepad, misalnya, Kemenristek/BRIN telah memesan 3.000 unit untuk memenuhi kebutuhan di RSHS dan RSP Unpad.

Abdul Gafur







Berita Terkait



Komentar