#gempabumi#bencanaalam#beritanasional#tsunami

Alat Deteksi Gempa dan Tsunami Dipasang di 315 Lokasi Rawan

( kata)
Alat Deteksi Gempa dan Tsunami Dipasang di 315 Lokasi Rawan
Diskusi daring dengan tema Sosialisasi Panduan Evakuasi Tsunami di Masa Covid-19 - Medcom.id/Siti Yona Hukmana

Jakarta (Lampost.co): Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bakal memasang warning receiver system (WRS) atau sistem penerima peringatan di 315 lokasi. Ini alat diseminasi informasi gempa dan peringatan dini tsunami secara real time.

"Dalam waktu sekitar 2 hingga 3 menit itu sudah ada informasi magnitudo dan sumber gempanya," kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono dalam diskusi daring dengan tema Sosialisai Panduan Evakuasi Tsunami di Masa Covid-19, Jumat, 5 Juni 2020.

Alat itu akan dipasang di 315 kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) seluruh Indonesia. Rahmat memastikan petugas BPBD setempat akan segera mendapat informasi terkait magnitudo dan sumber gempa.

"Mungkin selama ini kalau bapak ibu di daerah begitu merasakan guncangan gempa kemudian menanyakan ke kantor Pemda setempat sumber gempanya di mana, pasti akan dijawab tunggu sekitar 5 menit lagi kami proses, ke depan tidak akan demikian," ujar Rahmat.

Tak hanya itu, Rahmat menyebut alat berupa layar monitor itu juga akan menampilkan penjalaran gelombang P dan gelombang S. P adalah lingkaran kuning yang disebut gelombang longitudinal (arahnya search dari arah rambatan), sementara S adalah lingkaran merah yang disebut gelombang transversal (arahnya tegak lurus dari arah rambatan).

"Warna kuning dan merah itu adalah hasil finalnya, misalnya awal mulanya magnitudo 4,6 berubah-berubah yang menjadi sampai 5,0 itu adalah hasil final," ucapnya.

Rahmat mengatakan alat itu berfungsi sebagai alarm. Saat sistem menerima informasi atau peringatan alat tersebut berbunyi.

Informasi gempa bumi yang terdapat pada alat tersebut real time atau sesuai dengan waktu sebenarnya dengan BMKG secara otomatis. Informasi yang diterima sesuai standar operasional prosedur (SOP) BMKG.

Alat itu otomatis meneruskan SMS atau pesan peringatan kepada anggota group yang telah terdaftar. Informasi terkait gempa dan tsunami berupa peta dan teks. Terdapat juga data sejarah 120 kejadian terakhir.

"Ini bisa digunakan BPBD untuk mengambil langkah-langkah upaya mitigasi seperti perintah evakuasi, karena sebelum informasi kami keluar secara resmi, sudah ada informasi pendahuluan titik gempa," ujar Rahmat.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar