#BBM#pertamina

Alasan Pertamina Tak Turunkan Harga BBM

( kata)
Alasan Pertamina Tak Turunkan Harga BBM
Pertamina. Foto : MI/SAFIR MAKKI.


Jakarta (Lampost.co) -- PT Pertamina (Persero) hingga kini masih menahan untuk menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah penurunan harga minyak mentah dunia.
 
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan pihaknya masih melihat kemungkinan harga minyak akan berangsur naik. Hal ini pun, kata Nicke, sesuai dengan yang diutarakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebagai regulator yang mengatur kebijakan harga terutama untuk jenis BBM tertentu (JBT) atau bersubsidi seperti solar dan minyak tanah serta jenis bahan bakar khusus penugasan (JBKP) seperti premium.
 
Nicke mengatakaan OPEC menyepakati pemangkasan produksi minyak mentah dunia sebesar 9,7 juta barel per hari. Pemangkasan tersebut diyakini akan membuat harga minyak mentah dunia meningkat.

"Kita lihat diperkirakan harga minyak akan naik, pemerintah pun akan melihat dampak dari pemotongan produksi seperti apa. Tentu kita akan mengikuti aturan dari pemerintah," kata Nicke dalam konferensi pers, Kamis, 30 April 2020.
 
Nicke mengatakan lagi pula saat ini harga BBM yang berlaku masih sesuai dengan ketentuan formula yang dibuat oleh Kementerian ESDM yakni berdasarkan patokan harga dua bulan sebelumnya yakni periode harga minyak pada 25 Januari-24 Februari.
 
"Jadi kalau lihat harga BBM yang berlaku hari ini acuannya harga minyak mentah Februari," ujar Nicke.
 
Namun Nicke menggarisbawahi dengan menggunakan formula anyar tersebut yang diatur dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 52.K/12/MEM/2020, penghitungan harga BBM bisa indikator Mean of Platts Singapore (MOPS) atau Argus.
 
Ia bilang MOPS saat ini terjadi anomali karena harganya produk BBM yang impor lebih murah dibanding harga minyak mentah yang diproduksi di dalam negeri atau impor.
 
Sementara, kata Nicke, sekitar 70 persen produk yang dijual merupakan produksi di kilang nasional. Artinya penjualan produk BBM yang murni impor tidak sebanyak yang diproduksi di dalam negeri.
 
Selain itu, ia mengatakan yang harus digarisbawahi yakni minyak yang diproduksi di dalam negeri tentu harganya lebih mahal karena ada biaya produksi.
 
Nicke mengatakan sebetulnya jika ingin menggunakan cara instan dan BBM murah, Pertamina bisa mengimpor seluruhnya dalam bentuk produk dan menutup kegiatan produksi di kilang. Namun sayangnya tidak semudah itu.
 
Ia bilang Pertamina sebagai perusahaan BUMN merupakan driver ekonomi. Apabila kegiatan produksi di kilang dimatikan, maka akan berdampak pada lini ekonomi lainnya. Belum lagi, operasional kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dan kegiatan di hulu migas tentu akan terkena imbas.
 
"Kita bisa saja matikan kilang, beli saja BBM impor yang murah lalu didistribusikan. Tapi nanti ekonominya mati semua kan. Lalu minyak mentah domestik enggak ada yang beli, terus gimana KKKS," tutur Nicke.
 
Apalagi, lanjut Nicke, jika operasional di hulu terdampak dan ditutup memerlukan biaya . Belum lagi nantinya ketika akan mengaktifkan kembali juga memerlukan biaya. Bahkan, kata dia jika kegiatan hulu sudah ditutup dan diaktifkan kembali, belum tentu akan mengeluarkan minyak mengingat sumur-sumur migas di Indonesia sudah berumur tua.
 

Medcom







Berita Terkait



Komentar