#Nuansa#SetitikAir#WandiBarboy#Alam
Setitik Air

Alam yang Mengajarkan

( kata)
Alam yang Mengajarkan
Ilustrasi Pixabay.com

PERLAHAN tapi pasti, Lampung mulai diguyur hujan sejak dua hari ini. Tentu ini sebuah penantian panjang yang mesti disyukuri. Sekian lama provinsi dengan hasil pertanian yang dominan ini dilanda kemarau panjang. Dan, sekarang tetiba hujan datang.

Ibaratnya, panas setahun yang menyusahkan diguyur butiran hujan sehari yang sekali jatuh bisa mengatasi kemarau panjang. Lega rasanya. Puji Tuhan!

Namun, itu hanya pada satu sisi. Pada sisi lain, orang Lampung, khususnya orang-orang yang tinggal di Bandar Lampung, resah akibat longsor yang pernah terjadi beberapa waktu lalu.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Lampung telah menyoroti pemerintah (Pemkot dan Pemprov), terkait komitmennya untuk menjaga lingkungan khususnya perbukitan dan gunung yang mulai rusak dan rawan longsor di Bandar Lampung. Longsor yang terjadi di bukit di Sukamenanti, Kedaton, Bandar Lampung, pada 30 Oktober 2019 lalu, harus menjadi hikmah.

Direktur Walhi Lampung Irfan Tri Musri mengatakan dengan terjadinya longsor, itu merupakan peringatan keras dari Tuhan agar pemerintah lebih peduli kepada alam dan tidak sembarangan memberi izin untuk mengeksplorasi alam.

Atau jika rumput tidak bisa ditanya, lihatlah Greta Thunberg, gadis 16 tahun asal Swedia yang dengan segala aksi inspiratif dan provokatifnya, memarahi para pemimpin dunia yang hadir dalam KTT Perubahan Iklim PBB.

Ia juga menerangkan dari 33 bukit yang ada di Bandar Lampung, hanya beberapa bukit yang masih bagus dan perawan terjaga kealamiahannya seperti Gunung Banten dan Gunung Sulah. Kemudian, Gunung Kucing juga cukup alami, tapi beredar kabar akan dibangun jalan dan rumah di daerah tersebut yang berpotensi mengalami kerusakan.

Itu baru dari sisi perbukitan dan pegunungan. Belum sisi lain seperti wilayah pesisir, sungai, laut, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dan lain sebagainya. Maka, kearifan terhadap lingkungan hidup adalah kebijakan yang seringkali luput dari perhatian semua pihak. Sebagian besar kebijakan pemerintah selalu meminggirkan soal lingkungan.

Saya menjadi teringat dengan nyanyian Ebiet G Ade yang pada sepenggal lagunya tertera: Mungkin Tuhan mulai bosan/Melihat tingkah kita/Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa/Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita/Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang…

Atau jika rumput tidak bisa ditanya, lihatlah Greta Thunberg, gadis 16 tahun asal Swedia yang dengan segala aksi inspiratif dan provokatifnya, memarahi para pemimpin dunia yang hadir dalam KTT Perubahan Iklim PBB.

Alam telah mengajarkan dan memberikan segalanya. Maka, selamatkan lingkungan kita saat ini. Mulai dari hal yang terkecil dan hal yang bisa kita lakukan. Memungkasi catatan ini saya menjadi terngiang-ngiang dengan lagu Kidung Jemaat Nomor 337 berjudul Betapa Kita Tidak Bersyukur.

Demikian satu bait lagu pembukanya: Betapa kita tidak bersyukur/Bertanah air kaya dan subur/Lautnya luas, gunungnya megah/Menghijau padang, bukit dan lembah/Itu semua berkat karunia/Allah yang Agung, Mahakuasa/Itu semua berkat karunia/Allah yang Agung, Mahakuasa.

Bambang Pamungkas

Berita Terkait

Komentar