#kebudayaan#sejarah#digital

Aksara Lampung akan Didaftarkan ke BSN

( kata)
Aksara Lampung akan Didaftarkan ke BSN
Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi) berencana mengusung aksara Lampung dan Pegon ke Badan Standardisasi Nasional (BSN). Dok Pandi


Jakarta (Lampost.co) -- Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi) berencana mengusung aksara Lampung dan Pegon ke Badan Standardisasi Nasional (BSN). Upaya itu dilakukan setelah sukses mengusung aksara Sunda, Jawa, dan Bali ke proses serupa. 

Kedua aksara tersebut dianggap paling potensial dalam penetapan SNI melalui amandemen. 

Wakil Ketua Bidang Pengembangan Usaha, Kerjasama dan Pemasaran Pandi mengatakan, BSN akan membuat amandemen yang disepakati bersama dalam pengajuan aksara Lampung dan Pegon.

"Nantinya akan digelar kegiatan sekelas kongres bagi kedua aksara tersebut dalam rangka menyepakati pembakuan," kata Heru, Minggu, 12 Desember 2021.  

Baca: Talo Balak dan Tari Melinting Masuk Daftar Warisan Budaya Tak Benda Indonesia 2021

Menurut Heru, ada sejumlah aksara Nusantara yang masih diupayakan agar bisa ditransformasikan ke ranah digital. Dari hasil kesepakatan dengan para pegiat aksara Nusantara, aksara-aksara tersebut adalah Jawa, Sunda, Bali, Pegon, Lampung, Lontaraq, Serang, Batak, Rejang, Kawi, Incung, Lota, Bima, Arab Melayu, Jontal, Buda, dan Palawa.

"Tiga di antaranya, yakni Jawa, Sunda dan Bali, sudah memperoleh SNI untuk kemudian bisa dibangkitkan kembali pemanfaatannya di masa mendatang. Meskipun beberapa aksara seperti Lontaraq dan Batak sudah tercantum dalam daftar konsorsium Unicode, tetapi masih perlu langkah kesepakatan pembakuan secara nasional agar punya peluang untuk tahapan digitalisasi," tambah Heru.

Sementara itu, Sekretaris Yayasan Budaya Nusantara Digital, Dadan Sutisna menuturkan, jika tidak segera beradaptasi dengan teknologi digital, beberapa aksara Nusantara berada di ambang kepunahan.

Aksara tersebut pernah hadir di masa lalu, akan tetapi tidak lagi digunakan oleh masyarakat digital dan hanya menjadi artefak.

“Ada beberapa kekeliruan di masyarakat tentang digitalisasi aksara itu sendiri. Misalnya, dengan dapat digunakan untuk mengetik di perangkat lunak pemroses kata, aksara tersebut dinyatakan sudah memenuhi digitalisasi. Padahal esensi digitalisasi bukan itu, melainkan ada standarnya sehingga dapat diterapkan di semua platform, termasuk bahasa pemrograman,” ungkap Dadan.

Menurut Dadan, hal pertama yang perlu dilakukan menuju digitalisasi aksara adalah mempersempit kontroversi di antara pemilik aksara tersebut. Jika dalam satu aksara terdapat beberapa varian, maka harus dibakukan. Salah satunya melalui hasil musyawarah di antara komunitas.

Kesepakatan bentuk aksara merupakan modal penting untuk mencapai tahap awal digitalisasi.

"Saat ini ada 17 aksara Nusantara yang berpotensi untuk didigitalisasikan. Beberapa di antaranya sudah memenuhi standar Unicode, misalnya aksara Batak, Lontaraq, dan Rejang. Namun masih memerlukan langkah berikut, yakni tahapan pembakuan pada papan ketik, transliterasi, selain tentunya bentuk fon aksara tersebut pada media digital," tambah Dadan.

Bagi yang belum masuk dalam daftar di Unicode, dituntut keseriusan dan kesepakatan dari berbagai pihak, terutama komunitas pegiat aksara, untuk segera didaftarkan. Aksara-aksara tersebut antara lain Pegon, Lampung, Serang, Kawi, Incung, Lota, Bima, Arab Melayu, Jontal, Buda, dan Palawa.

“Bagi aksara yang berpotensi untuk didigitalitasikan, pendaftaran ke Unicode mesti menjadi prioritas. Unicode merupakan gerbang menuju digitalisasi, karena lama-kelamaan bukti-bukti keberadaan aksara tersebut dapat hilang,” kata Dadan.

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar