#UNILA

Akademisi Unila Nilai Mahasiswa Tidak Bermaksud Palsukan Tanda Tangan soal Gugatan UU IKN

( kata)
Akademisi Unila Nilai Mahasiswa Tidak Bermaksud Palsukan Tanda Tangan soal Gugatan UU IKN
Tangkapan layar saat MK menunjukkan indikasi pemalsuan tanda tangan pemohon via Zoom. (Lampost.co/Andre Prasetyo Nugroho)


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Akademisi Fakultas Hukum Universitas Lampung (FH Unila) menyatakan enam mahasiswa Unila tidak berniat untuk memalsukan tanda tangan dalam perkara permohonan uji materiil Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara di Mahkamah Konstitusi (MK).

Kepala Jurusan Hukum Tata Negara FH Unila Yusdianto, menyatakan sama sekali tidak ada maksud dan tujuan dari para pemohon untuk memalsukan dua tanda tangan dari enam pemohon. Saat itu, mahasiswa sekaligus pemohon, dikejar deadline perbaikan berkas pada uji materiil tersebut. Kemudian, dua pemohon yakni Nanda dan Dea berada di luar daerah dan tidak bersama pemohon lainnya.

"Mereka itu begadangan sampe malem, kebetulan yang dua dari luar daerah belum bisa langsung sampai. Tidak ada maksud memalsukan. Dua orang tersebut juga mengetahui dan sudah mengiyakan kalau diyakinkan," ujar Yusdianto, melalui telepon, Jumat, 15 Juli 2022.

Dia juga menyampaikan permohonan maaf mahasiswa Unila kepada seluruh masyarakat Indonesia karena sudah membuat gaduh. Menurut Yusdianto, para pemohon juga langsung mencabut permohonan tersebut usai diperintahkan oleh hakim MK. Yusdianto juga telah memberikan arahan dan bimbingan agar mahasiswa benar-benar memerhatikan hal sekecil apa pun, khususnya ketika membuat gugatan. Dia berharap ke depan tidak ada lagi permasalahan tersebut.

"Hakim juga kan intimidatif, sempat mahasiswa down. Mahasiswa ini kan proses, mereka belajar, hebat loh mereka. Langsung substansi menggugat undang-undang, saya lihat juga mereka mendalilkan dan materiilnya sebenarnya juga sudah bagus. Apalagi waktu sidang itu kan sebenarnya keenam-enamnya ada, walau cuma lima yang masuk daring, yang satu di luar, dalam artian, tidak ada niat memalsukan tanda tangan," katanya.

Baca juga: Hakim MK Sebut Mahasiswa Unila yang Gugat UU IKN Palsukan Tanda Tangan

Hakim MK Arief Hidayat, memaparkan pada sidang awalnya telah menerima perbaikan permohonan berkas para pemohon uji materil Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara. Namun, hakim meminta konfirmasi soal keabsahan tanda tangan para pemohon.

Adapun para penggugat merupakan mahasiswa FH Unila angkatan 2019 yakni, Hurriyah Ainaa Mardiyah, Nanda Trisua Hardianto, Muhammad Yuhiqqul Haqqa Gunadi, Dea Karisna, Rafi Muhammad, dan Ackas Depry Aryando. Gugatan tersebut terdaftar dengan nomor 66/PUU-XX/2022 di MKRI. Sidang perdana berlangsung pada 27 Juni 2022. Kemudian, sidang berlangsung secara daring pada 13 Juli 2022 dan hakim MK mempertanyakan keabsahan tanda tangan para pemohon.

Wandi Barboy






Berita Terkait



Komentar