#wisata#destinasiwisata#airterjun

Air Terjun Punuk Sapi Keindahan Tersembunyi di Lembah Register 34

( kata)
Air Terjun Punuk Sapi Keindahan Tersembunyi di Lembah Register 34
Air terjun Punuk Sapi yang masih alami menjadi destinasi wisata yang pantas dikunjungi.Lampost.co/Yudhi Hardiyanto

Kotabumi (Lampost.co) – Rerimbunan pohon dan hamparan kebun kopi rakyat di kawasan Register 34 Tangkit Tebak menyimpan potensi besar wisata. Pesona air terjun Punuk Sapi dengan limpasan air setinggi 50 meter yang berhias jajaran batu alam sebagai dinding pemisahnya di kiri kanan tebing laksana putri pingitan yang menunggu sang pujaan hati datang.

Destinasi wisata yang belum tersentuh itu terletak sekitar 49 km dari ibu kota Lampung Utara, Kotabumi, melintasi Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) menuju Desa Sidokayo, Kecamatan Abung Tinggi, dengan estimasi perjalanan sekitar 1 jam 20 menit. Dari kantor balai Desa Sidokayo ke lokasi air terjun, pengunjung mesti masuk ke jalan poros ke arah Dusun 7, Dermagajaya, dengan jarak tempuh sekitar 2 km.

Di Dusun 7 yang merupakan dusun terakhir berbatasan langsung dengan kawasan Register 34 Tangkit Tebak pengunjung mesti melanjutkan perjalanan ke dalam kawasan menggunakan sepeda motor atau berjalan kaki sekitar 3 km. Sebab, laju kendaraan roda empat hanya sampai di tapal batas dusun.

Dari batas dusun itulah kisah petualangan bagi mereka yang berjiwa muda serta menyukai tantangan dimulai. Dalam perjalanan ini, Lampost.co sarankan untuk membawa pemandu dari penduduk lokal karena letak air terjun itu tersembunyi di antara rerimbunan pohon.

Pengunjung mesti menyisir jalan setapak yang masih berupa jalan tanah selebar sekitar 2 meter yang biasa digunakan petani kopi melintas menuju areal perkebunan di wilayah kawasan. Di titik itu, sejauh mata memandang pengunjung dimanjakan pemandangan alam berupa hamparan kebun kopi rakyat saat memasuki wilayah yang merupakan perlintasan perbukitan sebelum turun memasuki lembah di register, letak di mana air terjun itu berada.

Saat Lampost.co menyisir jalan dipandu Ketua Kelompok Tani (Poktan) Mulyasari, Desa Sidokayo, Subagio dan beberapa penduduk lokal, untuk mengunjungi air terjun, terdengar gemericik suara limpasan air, Senin, 16 Desember 2019.

"Air terjun Punuk Sapi tepat berada di bawah tebing ini, Mas" ujar Subagio.

Untuk menuju lokasi ini, pengunjung mesti meniti areal terjal gugusan batu alam turun ke bawah, sekitar 200 meter berpegangan akar tanaman dengan kecuraman medan sekitar 60 derajat. Sampai di lokasi, rasa lelah akan terbayar saat melihat air terjun nan elok, menuruni terjalnya perbukitan  terbagi dua titian setinggi 50 meter yang dikelilingi batu alam. Pengunjung dapat beristirahat di cerukan batu, seluas 100 meter persegi atau memilih duduk di tonjolan batu-batu besar yang banyak berserakan di lokasi.

"Mungkin beberapa hari yang lalu ada yang datang kemari," kata Subagio sambil menunjukkan bekas pembakaran kayu dan beberapa potongan tulang ayam di lokasi tersebut.

Di areal air terjun yang diapit dinding terjal batu alam yang menjulang sekitar 300 meter itu, pengunjung akan disuguhkan keindahan alam dengan nuansa berbeda. Dari suara air yang bergemuruh saat beradu dengan bebatuan sampai kicauan burung liar yang  terdengar bersahutan.

"Kala duduk di sini, mendengar gemuruh air dan kicauan burung liar, saya merasa lebih tenang. Masih ada tujuh air terjun dengan ketinggian limpasan air sekitar 50 meter s.d. 100 meter dengan nuansa berbeda  juga dapat dinikmati yang bisa dicapai melalui lintasan sama di jalur yang dilalui tadi," ujarnya.

Hanya saja, karena air terjun Punuk Sapi termasuk tujuh air terjun yang belum dieksplorasi dan berada di wilayah kawasan register, destinasi wisata yang tersembunyi ini belum dapat dinikmati secara luas oleh pengunjung. Untuk pengembangannya dibutuhkan kerja sama antara instansi terkait yang menanganinya.

Muharram Candra Lugina



Berita Terkait



Komentar