#beritalampung#beritalampungterkini#gagalginjalakut#kesehatan

Ada 102 Obat Sirup yang Dikonsumsi Anak-anak Pengidap Gangguan Ginjal Akut

( kata)
Ada 102 Obat Sirup yang Dikonsumsi Anak-anak Pengidap Gangguan Ginjal Akut
Menteri kesehatan Budi Gunadi Sadikin (tengah) memberikan keterangan pers terkait kasus gangguan ginjal akut progresif atipikal di Kantor Kementrian Kesehatan, Jakarta, Jumat, 21 Oktober 2022. MI/Adam Dwi


Jakarta (Lampost.co) -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tengah menginvestigasi gangguan ginjal akut progresif atipikal (GGAPA) yang terjadi pada 241 anak-anak di Indonesia. Sejauh ini, Kemenkes menyatakan 75% kemungkinan penyebab dari kematian anak-anak yang mengidap GGAPA ialah dari obat-obatan yang mengandung etilen glikol (EG) dan dietlen glikol (DEG).

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut dari 241 pasien anak pengidap GGAPA, pihaknya telah mendatangi 156 rumah pasien anak-anak itu. Dan hasilnya, Kemenkes menemukan 102 obat sirop yang dikonsumsi anak-anak itu di rumahnya.

Baca juga: Menkes Klaim Pemerintah Telah Menemukan Obat Penyembuh Gangguan Ginjal Akut 

"Saat ini Badan POM masih mengecek secara kuantatif ke-102 obat-obatan itu ada atau tidaknya kadar EG dan DEG. Untuk obat ini nanti akan kami kerucutkan lagi kalau sudah keluar hasilnya. Tapi sekarang kami larang untuk resepkan dan jual sementara. Kami ambil langkah konservatif untuk memproteksi balita kita," kata Budi dalam konferensi pers terkait perkembangan penanganan gangguan ginjal akut di Indonesia yang diselenggarakan di Gedung Kementerian Kesehatan, Jumat, 21 Oktober 2022.

Budi mengungkapkan saat ini pihaknya telah berkoordinasi dengan Ikatan Dokter Anak Indoesia (IDAI), GP Farmasi, dan Ikatan Apoteker Indonesia untuk sementara waktu tidak meresepkan dan menjual secara bebas obat-obatan tersebut sampai hasil pemeriksaan yang dilakukan Badan POM selesai.

“Kami harapkan enggak ada lagi balita-balita yang masuk RS. Nanti yang akan kami buka adalah yang tidak ada pelarutnya. Karena penyakit ini kan disebabkan impurities dari pelarut. Itu nanti akan kami setujui. Saat ini Badan POM juga sedang mengerjakan sekian ribu atau sekian puluh ribu obat-obatan mana yang tidak ada EG dan DEG-nya," ujarnya.

Pada kesempatan itu, Plh Deputi 1 Badan POM Elin Herlina mengungkapkan pihaknya telah menerbitkan surat kepada pimpinan dan apoteker agar industri melakukan pengujian secara mandiri terhadap bahan baku yang digunakan dan melaporkan kepada Badan POM terkait hasilnya sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan.

"Pengujuan mandiri industri kami tekankan kembali dalam UU tanggung jawab industri adalah memberikan jaminan memproduksi dan mengedarkan produk obat yang aman, bermutu, dan berkhasiat," ujarnya.

Elin mengimbau kepada masyarakat agar menggunakan obat sesuai dengan anjuran pakai dan tidak melebihi anjuran pakai yang tertera di kemasan. Selain itu, masyarakat juga diimbau membaca dengan saksama peringatan kemasan dan konsultasi ke dokter atau tenaga kesehatan saat timbul hal-hal yang perlu ditindaklanjuti.

Muharram Candra Lugina








Berita Terkait



Komentar