#beritalampung#beritadaerah#lampung#kalianda#pertanian

90 Persen Lahan Pertanian di Ketapang Dibiarkan Nganggur

( kata)
90 Persen Lahan Pertanian di Ketapang Dibiarkan Nganggur
Dua orang warga di jalan lintas pantai timur kecamatan Ketapang, Lampung Selatan menggembalakan ternak di lahan persawahan yang mengalami kekeringan, Jumat (18/10/2019). Lampost/Aan Kridolaksono

KALIANDA (Lampost.co) -- Akibat kemarau yang berkepanjangan, sekitar 90 persen lahan pertanian di kecamatan Ketapang, kabupaten Lampung Selatan dibiarkan menganggur.

Berdasarkan data dari Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura kecamatan Ketapang, dari 3.190 hektare sawah yang tersebar di 17 desa diperkirakan hanya sekitar 319 hektar saja yang digarap untuk tanaman palawija, sisanya seluas 2.871 hektar nganggur. 

"Ada sekitar 90 persen lahan pertanian dibiarkan menganggur akibat kemarau yang berkepanjangan. Lahan yang tak tergarap itu merupakan sawah tadah hujan," kata Petugas Pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT) UPTD PTPH Dinas Kecamatan Ketapang, Avit Rakedi kepada lampost.co, Jumat 18 Oktober 2019.

Ia menjelaskan dampak kemarau panjang ini, hasil panen padi seluas 1.780 hektare anjlok, bahkan 306 hektare diantaranya gagal panen.

"Hasil panen merosot tajam lantaran kekeringan dan gangguan hama," ujarnya. 

Meski demikian imbuhnya, tanaman padi  seluas 115,6 hektare yang mengalami gagal panen mendapat bantuan dari pemerintah karena petani tersebut mengajukan klaim melalui Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). 

Ia menjelaskan dengan membayar premi AUTP Rp36.000 untuk luas tanam satu hektar dalam satu kali musim tanam, petani akan mendapatkan dana pertanggungan sebesar Rp6 juta/hektar dengan tingkat kerusakan diatas 75 %. 

"Seluas 115,6 hektar tanaman padi yang mendapatkan klaim dari AUTP tergabung dalam 15 kelompok tani," pungkasnya.

Aan Kridolaksono

Berita Terkait

Komentar