#bambang-Eka-Wijaya#Hari-Pers-Nasional#buras

9 Februari, Lahirnya PWI Jadi Hari Pers Nasional!

( kata)
9 Februari, Lahirnya PWI Jadi Hari Pers Nasional!
Ilustrasi Pixabay.com

LAMPUNG POST
Bambang Eka Wijaya

DALAM mencapai Indonesia merdeka, wartawan negeri ini tercatat sebagai patriot bangsa bersama para perintis pergerakan di berbagai pelosok Tanah Air yang berjuang untuk menghapus penjajahan.

Tribuana Said dalam Sekilas Sejarah Pers Nasional (PWI.or.id, 15/9/2009) menulis, di masa pergerakan itu wartawan menyandang dua peran sekaligus, sebagai aktivis pers yang melaksanakan tugas-tugas pemberitaan dan penerangan guna membangkitkan kesadaran nasional, dan sebagai aktivis politik yang melibatkan diri secara langsung dalam kegiatan membangun perlawanan rakyat terhadap penjajah.

Kedua peran tersebut memiliki tujuan tunggal, mewujudkan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Aguatus 1945, wartawan Indonesia masih melakukan peran ganda sebagai aktivis pers dan aktivis politik.

Dalam Indonesia merdeka, kedudukan dan peranan wartawan khususnya, pers pada umumnya, mempunyai arti strategis dalam upaya berlanjut untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

Aspirasi perjuangan wartawan dan pers Indonesia memperoleh wadah dan wahana yang berlingkup nasional pada tanggal 9 Februari 1946 dengan terbentuknya organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Hari kelahiran PWI kini setiap tahun diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN), tahun ini diadakan di Banjarmasin.

Kedua peran tersebut memiliki tujuan tunggal, mewujudkan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia.

Kelahiran PWI di tengah kancah perjuangan mempertahankan Republik Indonesia dari ancaman kembalinya penjajahan, melambangkan kebersamaan dan kesatuan wartawan Indonesia dalam tekad dan semangat petriotiknya untuk membela kedaulatan, kehormatan serta integritas bangsa dan negara.

Bahkan dengan kelahiran PWI, wartawan Indonesia menjadi makin teguh dalam menampilkan dirinya sebagai ujung tombak perjuangan nasional menentang kembalinya kolonialisme.

Sebagai penerus perjuangan para pahlawan nasional melawan penjajah sejak Abad ke-16, sejak Kebangkitan Nasional wartawan selalu berada di garis depan. Boedi Oetomo yang didirikan dr Soetomo dan kawan-kawan 20 Mei 1908, pencetus gagasannya dr Wahidin Sudirohusodo adalah redaktur majalah Retno Dhoemilah sejak 1901.

Tirtohadisurjo, pendiri Sarekat Dagang Islam (1912), sebelumnya adalah redaktur penerbit Medan Prijaji di Bandung. Bahkan pada awal 1920-an, telah tercatat sebanyak 400 penerbitan dalam berbagai corak di banyak kota seluruh Indonesia. Di Medan, masa itu telah terbit Pewarta Deli dipimpin Djamaludin Adinegoro.

Selamat Hari Pers Nasional. ***

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar