#pendidikan #viruskorona #sekolah #pembelajarandaring

7 Alasan Kemendikbud Izinkan Pembelajaran Tatap Muka di Januari 2021

( kata)
7 Alasan Kemendikbud Izinkan Pembelajaran Tatap Muka di Januari 2021
Ilustrasi. MI


Jakarta (Lampost.co) -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menyampaikan lewat surat keputusan bersama (SKB) empat menteri jika sekolah diperbolehkan menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) pada Januari 2021. Setidaknya terdapat tujuh pertimbangan atau alasan Kemendikbud mengizinkan sekolah kembali menggelar PTM.

"(PJJ) Kalau terus-menerus dilaksanakan bisa menjadi suatu risiko yang permanen dan risiko pertama adalah ancaman putus sekolah," kata Nadiem konferensi pers daring pengumuman penyelenggaraan pembelajaran semester genap TA 2020/2021 di masa pandemi Covid-19, Jumat, 20 November 2020.

Potensi putus sekolah ini dikarenakan dia melihat banyak anak yang harus bekerja atau didorong orang tuanya untuk bekerja di masa PJJ. Hal itu juga tak lepas dari situasi ekonomi keluarga yang memburuk saat pandemi Covid-19.

Angka putus sekolah itu juga terjadi akibat persepsi orang tua yang menganggap sekolah tidak berperan penting dalam peningkatan kompetensi anak saat PJJ. Akhirnya, anak-anak banyak yang diberhentikan pendidikannya. "Banyak anak dikeluarkan dari sekolah dan risikonya akan meningkat semakin lama," ujarnya.

Selanjutnya, PTM harus kembali dilanjutkan karena melihat risiko tumbuh kembang peserta didik. Tumbuh kembang dinilai menjadi tidak merata akibat adanya kesenjangan pendidikan yang menguntungkan peserta didik yang memiliki akses.

"Anak-anak kita ada kesenjangan pembelajaran dan harus mengejarnya, itu mungkin sebagian akan ketinggalan dan tidak bisa mengejar kembali pada saat kembali sekolah," katanya.

Alasan berikutnya, PTM ialah adanya tekanan psikososial dan kekerasan dalam keluarga selama PJJ berlangsung. Selain itu, minimnya interaksi dengan guru, teman, lingkungan luar, dan tekanan akibat sulit dan besarnya beban PJJ dapat menyebabkan stres pada anak.

"Tentunya peningkatan insiden kekerasan yang tidak terdeteksi guru terjadi di dalam rumah tangga juga meningkat dan ini menjadi salah satu pertimbangan kita yang terpenting," ujarnya.

Medcom







Berita Terkait



Komentar