#terorisme#radikalisme

5 WNI Ditetapkan sebagai Fasilitator Keuangan ISIS

( kata)
5 WNI Ditetapkan sebagai Fasilitator Keuangan ISIS
Kelompok teroris. Ilustrasi


Washington (Lampost.co) -- Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) Kementerian Keuangan Amerika Serikat (AS) menetapkan lima orang diduga warga negara Indonesia (WNI) sebagai fasilitator keuangan kelompok teror Islamic State (ISIS). Mereka beroperasi di seluruh Indonesia, Suriah dan Turki.

"Lima orang yang ditetapkan ini sesuai dengan Perintah Eksekutif (EO) 13224, yang memainkan peran kunci dalam memfasilitasi perjalanan ekstremis ke Suriah dan daerah lain di mana ISIS beroperasi," kata pernyataan OFAC Kemenkeu AS di situs mereka, Selasa, 10 Mei 2022.

Mereka mengatakan, jaringan ini melakukan transfer keuangan untuk mendukung upaya ISIS di kamp-kamp pengungsi yang berbasis di Suriah dengan mengumpulkan dana di Indonesia dan Turki. Beberapa diantaranya, digunakan untuk membayar penyelundupan anak-anak keluar dari kamp dan mengirim mereka ke militan ISIS sebagai calon rekrutan.

Hal itu dikeluarkan bertepatan dengan pertemuan ke-16 Counter ISIS Finance Group (CIFG) Global Coalition to Defeat ISIS. Amerika Serikat, Italia, dan Arab Saudi bersama-sama memimpin CIFG yang terdiri dari hampir 70 negara dan organisasi internasional dan mengoordinasikan upaya melawan jaringan dukungan keuangan ISIS di seluruh dunia.

"Hari ini, Departemen Keuangan mengambil tindakan untuk mengekspos dan mengganggu jaringan fasilitasi internasional yang mendukung perekrutan ISIS, termasuk perekrutan anak-anak yang rentan di Suriah," kata Wakil Menteri Keuangan urusan Terorisme dan Intelijen Keuangan AS, Brian E. Nelson.

Baca juga: ISIS Jadi Musuh Baru Israel?

"Amerika Serikat, sebagai bagian dari Koalisi Global untuk Mengalahkan ISIS, berkomitmen untuk menyangkal kemampuan ISIS untuk mengumpulkan dan memindahkan dana ke berbagai yurisdiksi," sambungnya.

Penghuni kamp pengungsi di Suriah termasuk mereka yang kabur dari ISIS, anggota ISIS, pendukung dan bahkan keluarga mereka. Para simpatisan ISIS di lebih dari 40 negara dunia mengirimkan uang kepada individu-individu ini untuk mendukung kebangkitan ISIS di masa depan.

Al-Hawl adalah kamp pengungsi terbesar di timur laut Suriah, dan menampung hingga 70.000 orang, yang sebagian besar adalah wanita dan anak-anak. Di sana, pendukung ISIS menerima hingga USD20 ribu (setara Rp290,8 juta) per bulan melalui hawala, sebuah mekanisme transfer informal.

Mayoritas dari transfer dana tersebut berasal di luar Suriah atau melewati Turki. Selain itu, sejak 2019 ISIS menyelundupkan rekan-rekannya dari al-Hawl sebagian besar ke Idlib, Deir ez-Zor, dan Raqqa.

Secara khusus, mereka berfokus pada penyelundupan anak-anak keluar dari kamp pengungsi untuk perekrutan sebagai militan.

Nama-nama Indonesia yang disebutkan oleh OFAC antara lain Dwi Dahlia Susanti, Rudi Heryadi dan Ari Kardian yang ditunjuk berdasarkan EO 13224. Lalu ada Muhammad Dandi Adhiduna dan Dini Ramadhani yang dianggap kaki tangan Susanti.

AFOC melaporkan, Dwi Dahlia Susanti menjadi fasilitator keuangan ISIS setidaknya sejak 2017. Ia dilaporkan telah membantu anggota ISIS lainnya dengan pengiriman uang yang melibatkan individu di Indonesia, Turki, dan Suriah.

 Pada akhir 2017, Susanti membantu suaminya mengirimkan hampir USD4.000 atau sekitara Rp58 juta dan senjata kepada seorang pemimpin ISIS. Saat itu, Susanti mengalihkan sekitar USD500 atau sekitar Rp7,2 juta dari dana tersebut untuk para pendukung ISIS di jaringannya sendiri.

"Pada awal 2021, Susanti memfasilitasi pengiriman uang dari Indonesia ke Suriah untuk memberikan dana kepada individu-individu di kamp-kamp pengungsi," terang AFOC.

Dalam beberapa kasus, dana itu digunakan untuk menyelundupkan anak-anak remaja keluar dari kamp ke padang pasir, di mana mereka diterima oleh militan asing ISIS, kemungkinan sebagai rekrutmen anak-anak untuk ISIS.

Pada pertengahan 2019, Rudi Heryadi memberi tahu seorang rekan ekstremis tentang potensi perjalanan ke daerah-daerah yang didominasi ISIS, termasuk di Afghanistan, Mesir, dan bagian lain Afrika, serta Yaman. Heryadi juga meminta sumbangan untuk para penjelajah dan keluarganya.

 Pada 24 Juni 2020, pihak berwenang Indonesia memvonis Heryadi atas tuduhan terorisme. Ketetapan itu juga menargetkan fasilitator ISIS Ari Kardian, yang sebelumnya didakwa oleh otoritas Indonesia karena memfasilitasi perjalanan WNI ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

Baik Susanti, Rudi, dari Ari dituduh karena membantu, mensponsori, atau memberikan dukungan finansial, material, atau teknologi secara material, atau barang atau jasa kepada atau untuk mendukung ISIS.

Dalam berbagai kesempatan, Muhammad Dandi Adhiguna memberikan bantuan kepada Susanti termasuk dalam hal keuangan dan operasional. Adhiguna memberi masukan kepada Susanti tentang penggunaan rekening bank pribadinya.

Pada akhir 2021, Adhiguna mengisi formulir pendaftaran untuk bergabung dengan ISIS dan mengirimnya ke Susanti. Sementara itu, Dini Ramadhani beberapa kali memberikan bantuan keuangan kepada Susanti.

Keduanya dituduh membantu, mensponsori, atau memberikan dukungan finansial, material, atau teknologi secara material untuk, atau barang atau jasa kepada atau untuk mendukung Susanti, sebagai fasilitator keuangan kelompok teror tersebut.

 

 

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar