#internasional#perang#yaman#bom

35 Orang Tewas dalam Serangan Udara Arab Saudi di Yaman

( kata)
35 Orang Tewas dalam Serangan Udara Arab Saudi di Yaman
Konflik yang terjadi di Yaman menyengsarakan warga (Foto: MTVN/AFP).


Sana'a (Lampost.co) -- Sedikitnya 35 orang tewas dalam serangan udara yang melanda sebuah hotel di dekat sebuah pos yang dikuasai pemberontak Houthi di luar ibu kota Yaman, Sana'a, Rabu 23 Agustus 2017. 

Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi mengatakan sebuah "target bernilai tinggi secara militer yang resmi" disasar di distrik Arhab, utara Sanaa. 

"Para korban yang tewas adalah anggota kelompok pemberontak bersenjata," katanya dalam sebuah referensi ke pemberontak Huthi yang bersekutu dengan Iran.

Atap hotel runtuh, meninggalkan setidaknya dua mayat tergantung di bangunan di daerah Arhab, sekitar 20 km dari Sana'a, kata seorang saksi mata.

Al-Masira TV, yang dijalankan oleh kelompok bersenjata Houthi yang menguasai Yaman utara, mengutip gubernur Sana'a mengatakan jumlah korban tewas telah meningkat menjadi setidaknya 46 "martir." Tidak jelas apakah korban tewas warga sipil atau para militan.

Yehia Hussein, pekerja darurat di daerah yang dikendalikan Houthi, mengatakan "agresor Saudi-Amerika" menargetkan hotel tersebut, yang telah menampung sekitar 100 orang.

Petugas medis menemukan 35 mayat serta serpihan tubuh, katanya. "Hampir 13 orang terluka dan jasad korban masih berada di bawah reruntuhan," Hussein menambahkan.

Struktur lantai dasar bangunan beton abu-abu masih berdiri. Namun tingkat atasnya rombeng menjadi puing-puing dengan kabel logam terentang ke udara. Para pria mencari-cari di reruntuhan, sementara yang lain membawa sesosok mayat ke sebuah van putih.

"Komando Pasukan Gabungan menanggapi informasi yang masuk melalui sumber intelijennya, yang mengkonfirmasi kedatangan sekelompok militan bersenjata ke salah satu bangunan," kata juru bicara koalisi, Kolonel Turki al-Malki, kepada AFP dalam sebuah pernyataan.

"Kelompok Houthi ini ditempatkan di Distrik Arhab dan juga di sekitar Bandara Internasional Sana'a," ujarnya seperti dikutip Japan Times, Kamis 24 Agustus 2017.

Pasukan Houthi dipercaya tidak memiliki kekuatan udara. "Kejahatan hari ini mengingatkan kita bahwa kita semua menjadi target sebagai orang Yaman," al-Masirah TV mengutip pemimpin kelompok tersebut, Abdel-Malek al-Houthi berkata.

Houthi, yang wilayahnya termasuk Sana'a, memerangi pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Pemerintah didukung oleh aliansi militer dipimpin oleh Saudi dalam sebuah perang yang telah menewaskan setidaknya 10.000 orang dan menimbulkan sebuah bencana kemanusiaan.

Bulan ini, seorang pejabat senior PBB mengutuk serangan udara yang dilaporkan terjadi di Yaman, termasuk di sebuah rumah berisi anak-anak. Ia mengatakan bahwa hal itu menunjukkan "terabaikannya" keamanan sipil.

Koalisi pimpinan Saudi membantah menargetkan rumah keluarga tersebut setelah seorang pejabat kesehatan mengatakan sembilan warga sipil tewas dalam serangan udara.

Amerika Serikat (AS) dan Inggris memberikan bantuan senjata dan logistik kepada aliansi untuk kampanyenya. Isu tersebut sudah menimbulkan kontroversi di Inggris mengenai korban warga sipil.

Selain menyerang sasaran militer, serangan udara telah menyerang rumah sakit, fasilitas infrastruktur dan pelabuhan, memperburuk krisis kemanusiaan.

Pejabat AS mengatakan telah mencoba menemukan cara untuk memperbaiki target Saudi. Pentagon mengirim pengacara militer AS untuk melatih mitranya dari Saudi tentang bagaimana memastikan legalitas serangan udara, dan perangkat lunak yang dirancang demi membantu menentukan apakah amunisi tertentu dapat menyebabkan kerusakan di luar target.

Sebuah laporan oleh sejumlah badan bantuan internasional, pekan lalu, menyebutkan Yaman mengalami serangan udara lebih banyak pada paruh pertama tahun ini daripada secara keseluruhan tahun 2016. Akibatnya meningkatkan jumlah kematian warga sipil dan memaksa lebih banyak orang mengungsi dari rumah mereka.

Laporan tersebut tidak mengidentifikasi pihak manapun yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Namun koalisi telah mengendalikan wilayah udara Yaman sejak perang dimulai pada Maret 2015. Pasukan AS juga melakukan serangan udara atau serbuan dadakan sesekali menggunakan pesawat tak berawak.

PBB sudah  menetapkan jumlah korban tewas sejak perang dimulai pada Maret 2015 lebih dari 10.000 orang.

MTVN







Berita Terkait



Komentar