#pelecehanseksual#asusila

200 Ribu Anak Jadi Korban Pelecehan Seksual Pendeta di Prancis

( kata)
200 Ribu Anak Jadi Korban Pelecehan Seksual Pendeta di Prancis
Kepala Komisi Jean-Marc Sauve (kiri) hadir dalam pembahasan laporan pelecehan seksual yang dilakukan pendeta Prancis terhadap 200 ribu lebih anak-anak di Paris, 5 Oktober 2021. (Thomas COEX / POOL / AFP)


Paris (Lampost.co) -- Sebuah penyelidikan mengungkapkan perbuatan keji seorang pendeta di Prancis yang melakukan pelecehan seksual terhadap lebih dari 200 ribu anak sejak 1950. Hasil penyelidikan ini dirilis pada Selasa, 5 Oktober 2021.

 

Dilansir dari Channel News Asia, Rabu, 6 Oktober 2021, pelecehan seksual yang berlangsung selama 70 tahun di Prancis ini sebagian besarnya menyasar anak laki-laki. Mayoritas korban diketahui berusia antara 10 dan 13 tahun.

Pihak penyelidikan menuduh, Gereja Katolik di Prancis telah terlalu lama menutup mata atas tindakan memalukan ini. "Ketidakpedulian yang dalam, total dan bahkan kejam berlangsung selama bertahun-tahun," kata Kepala Komisi Penyusun Laporan, Jean-Marc Sauve.

Selain tidak mengambil sejumlah langkah yang diperlukan guna mencegah pelecehan seksual, pihak gereja juga tidak melaporkan kasus ini ke aparat berwenang. Bahkan, terkadang mereka menempatkan para anak-anak secara sadar untuk kemudian dilecehkan predator. Pihak gereja disebut-sebut baru memulai perubahan sikap terkait kasus pelecehan pada 2015 hingga 2016.

Ketua Konferensi Wali Gereja Prancis, Eric de Moulins-Beaufort, mengaku malu atas terbongkarnya kasus ini dan berjanji akan mengambil tindakan tegas.

Komisi yang didirikan oleh para uskup Katolik di Prancis sejak 2018 ini disebut telah bekerja secara independen. Mereka memiliki peran untuk menjelaskan pelanggaran dan memulihkan kepercayaan publik terhadap gereja.

Sauve tak henti mendesak pihak gereja untuk melakukan reformasi. Ia juga mendorong pihak gereja untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi dan memberikan kompensasi finansial yang memadai kepada para korban.

Hingga kini, laporan pelecehan seksual ini tengah diteruskan ke otoritas peradilan di Prancis,

"Meskipun tidak cukup (untuk mengatasi trauma akibat pelecehan seksual), namun tetap diperlukan karena melibatkan proses pengakuan," ujarnya.

Winarko







Berita Terkait



Komentar