#Ekonomi#Lampung#Deflasi#Sumatera

19 Kota di Sumatera Alami Deflasi

( kata)
19 Kota di Sumatera Alami Deflasi
Kepala BPS menyampaikan hasil inflasi September di kantor BPS Lampung, Selasa, 1 Oktober 2019. (Foto : Effran Kurniawan/Lampost.co)

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Indeks Harga Konsumen Gabungan Lampung menurun dari 139,55 pada Agustus menjadi 139,30 di September membuat terjadinya deflasi 0,18%.

Penurunan itu difaktori atas harga cabai merah yang mulai berangsur pulih ke nilai normalnya. Hal itu secara kompak terjadu pula di 19 kota di Sumatera.

Kepala Badan Pusat Statistik Lampung, Yeane Irmaningrum menjelaskan dari tujuh kelompok pengeluaran di Bandar Lampung hanya bahan makanan yang mengalami penurunan indeks, yaitu 3,06%.

Sementara itu, enam kelompok lainnya mengalami inflasi khususnya pendidikan, rekreasi, dan olahraga yang mencapau 6,07%.

"Walaupun hanya satu kelompok, tetapi dapat membentuk deflasi dengan andil 0,77%. Dari bahan makanan itu, cabai merah kembali berperan besar dalam pembentukan. Jika biasanya inflasi, sekarang berandil dalam membentuk deflasi sebesar 0,5%," kata Yeane dalam penyampaian hasil resmi statistik di BPS Lampung, Selasa, 1 Oktober 2019.

Komoditas lainnya yang turut dominan terjadi pada bawang merah (0,18%), tomat sayur (0,05%), telur ayam ras dan cabai rawit (0,03%), timun, petai, bawang putih (0,02%), cung kediro dan ayam hidup (0,01%). Namun, deflasi itu diimbangi dengan enam kelompok lainnya yang mengalami inflasi, seperti pada pendidikan, rekreasi, dan olah raga mencapai 6,07%.

"Lalu kelompok sandang 0,48%, perumahan, air, listrik, gas, dan bahan hakar (0,25%), kesehatan (0,22%), transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan (0,11%), dan makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (0,06%). Pembentukan deflasi ini menempatkan Bandar Lampung di peringkat ke-33 dari 82 kota dan ketujuh di Sumatera," ujarnya.

Kepala Bidang Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung, Riduan mengatakam rata-rata terjadi deflasi baik nasional maupun Sumatera. Dalam lingkup Sumatera, 19 dari 23 kota yang diamati mengalami deflasi. Hal itu disinyalir dipengaruhi atas harga cabai merah yang tengah menurun.

"Dalam empat bulan terakhir inflasi selalu ditekan dari kenaikan cabai. Tapi, di September ini mulai terjadi penurunan dan ternyata menjadi andil besar pembentuk deflasi. Hal itu terlihat juga di berbagai daerah di Sumatera yang juga menjadi sentra cabai, seperti Medan, Sibolga, dan lainnya. Bahkan di daerah tekanan deflasinya dari cabainya lebih tinggi, karena saat inflasi bobotnya cabai pun besar," kata Riduan.

Kendati demikian, lanjutnya, penurunan harga cabai merah itu tidak terlalu terlihat. Sebab, di September ini dibarengi adanya inflasi dari kelompok pendidikan khususnya tingkat SMP yang memiliki peningkatan besar. "Kenaikan indeka dari pendidikan itu terjadi atas meningkatnya uang bayaran sekolah mulai dari SD hingga perguruan tinggi," katanya.

Effran Kurniawan

Berita Terkait

Komentar