bombaliterorisJI

18 Tahun Buron, Zulkarnaen Sembunyi di 25 Kota

( kata)
18 Tahun Buron, Zulkarnaen Sembunyi di 25 Kota
Zulkarnaen nampak turun dari pesawat dengan mengenakan baju tahanan berwarna oranye, sarung berwarna putih, penutup wajah berwarna hitam, serta tangan dan kaki diborgol. Dia nampak dikawal beberapa anggota Densus 88. AFP PHOTO/Fajrin Nugroho


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Tersangka teroris Zulkarnaen alias Arif Sunarno alias Daud alias Zaenal Arifin alias Abdulrahman, ternyata selama 18 tahun pelariannya telah berpindah-pindah ke 25 kota yang ada di Indonesia.

Ia ditangkap Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri di Toto Harjo, Probolinggo, Lampung Timur pada 10 Desember 2020, dan telah diterbangkan ke Jakarta bersama 22 tersangka lainnya dari Lampung.

Baca juga: Zulkarnaen, Biang Terorisme Si Penjual Tepung dan Golok

"Ada di Pulau Jawa, Palembang Sumatera Selatan, Sulawesi, dan Lampung," ujar Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Argo Yuwono, Jumat, 18 Desember 2020, yang disiarkan langsung melalui IG Instagram resmi.

Dalam pelariannya, Zulkarnaen dibiayai oleh sel-sel Jamaah Islamiah (JI) di tiap daerah, dan juga JI Pusat. Ia juga membentuk tim khos (task force), dengan nama-nama besar di dalamnya.

Baca juga: Polisi Temukan Bungker Teroris Upik Lawanga di Lampung

"19 orang tim khos itu, diantaranya Amrozi Dulmatin, Ali Imron, Imam Samudera," kata mantan Kabid Humas Polda Metro Jaya itu.

Zulkarnaen didapuk Sebagai Panglima Askari JI. Kelompok ini juga diketahui memiliki bidang-bidang seperti SDM, bidang Ekonomi, dan pendidikan.

"Selain bidang ada pembagian wilayah disebut mandeqi (wilayah), mandeqi satu itu Singapura dan Malaysia, dua wilayah Indonesia bagian barat, mandeqi tiga Indonesia bagian timur seperti Ambon, Poso, dan mandeqi empat wilayah Australia," katanya.

Ia menambahkan, Zulkaranen memiliki rekam jejak berbahaya, diantaranya selain DPO Bom Bali I dan II, ia salah satu pendiri kelompok JI bersama pelaku lainnya berinsial AS dan ABB yang menyusun pedoman umum perjuangan al Jamaah Al Islamiyah (PUPJI), sebagai Qoid Asqari (Panglima Militer), yang menyusun strategi dan operasi serangan seperti arsitek kerusuhan di Ambon, Ternate, dan Poso pada tahun 1998-2000.

Kemudian Zulkarnaen otak peledakan kantor kedutaan Filipina di Menteng, DKI Jakarta, pada 1 Agustus 2000. Selanjutnya ia otak peledakan Gereja Kathedral Jakarta dan Medan, Gereja Atrium Jakarta, Gereja HKBP Jakarta Timur, pada malam natal tahun 2000 dan 2001.

Selain itu, ia juga otak peledakan Bom Bali 1 tahun 2002, bom Hotel JW Mariot pertama tahun 2003, bom Kedubes Australia di Kuningan Tahun 2004, kasus Bom Bali 2 tahun 2005.

Winarko







Berita Terkait



Komentar