#kenakaran#india#17tewas#internasional

17 Orang Tewas dalam Kebakaran Hotel Murah di Delhi

( kata)
17 Orang Tewas dalam Kebakaran Hotel Murah di Delhi
Ilustrasi (Medcom.Id)

NEW DELHI (Lampost.co)--Sedikitnya 17 orang tewas dalam kebakaran sebuah hotel murah di New Delhi, India, pada Selasa (12/2/2019) dini hari. Para korban, termasuk seorang wanita dan seorang anak yang dilaporkan melompat dari jendela untuk menghindari kobaran api.

Asap tebal dan api mengepul keluar dari lantai atas Hotel Arpit Palace di bagian padat ibu kota India itu.

Para tamu hotel, yang biasanya dengan anggaran terbatas dan pebisnis, tidak dapat menggunakan koridor untuk melarikan diri karena panelnya terbuat dari kayu yang mudah terbakar. Tiga warga Myanmar yang menginap di hotel itu hilang. Seperti dilaporkan jaringan berita NDTV.

Saat kebakaran, sebagian besar tamu sedang tidur karena peristiwa itu terjadi pada dini hari.
Diperkirakan sekitar 120 orang berada di dalam gedung yang dibangun sekitar 25 tahun lalu itu.
"Kami telah mengonfirmasi dengan otoritas rumah sakit, jumlah korban sekarang 17 termasuk seorang anak," kata Sunil Choudhary, seorang pejabat senior pemadam kebakaran kepada AFP.

Direktur Dinas Pemadam Kebakaran Delhi GC Misra mengatakan kobaran api telah dikendalikan dan 35 orang diselamatkan oleh petugas. Operasi pemadaman berlangsung beberapa jam dan melibatkan sedikitnya 25 mobil pemadam kebakaran. "Ada panel kayu di koridor karena orang tidak bisa menggunakan koridor untuk mengungsi," kata petugas pemadam kebakaran lainnya kepada wartawan.

Polisi mengatakan mereka sedang menyelidiki penyebabnya dan penyelidikan yudisial telah diperintahkan untuk meningkatkan kekhawatiran tentang keselamatan kebakaran di India.
Hotel ini berada di Distrik Karol Bagh, pusat komersial sibuk yang dilintasi oleh gang-gang sempit tempat kabel listrik menjuntai di atas kepala. Daerah itu, yang menampung ratusan hotel, toko, dan kantor, penuh dengan turis dan pembeli.

Kebakaran biasa terjadi di seluruh India karena standar keselamatan yang buruk dan lemahnya penegakan aturan. Aktivis mengatakan developer dan tuan tanah sering memotong regulasi keselamatan untuk menghemat biaya dan sebaliknya menuduh otoritas sipil lalai dan apatis.

MI*

Berita Terkait

Komentar