#pembunuhan#Pertikaian#sengketa

15 Orang Jadi Tersangka Kasus Pembunuhan di Anak Tuha

( kata)
15 Orang Jadi Tersangka Kasus Pembunuhan di Anak Tuha
Sidang kedua dengan agenda mendengarkan keterangan saksi-saksi di Kantor Pengadilan Negeri (PN) Gunung Sugih, Kamis, 8 Juli 2021. Lampost.co/Wahyu Pamungkas


Gunungsugih (Lampost.co) -- Sebanyak 15 orang menjadi tersangka dalam kasus sengketa lahan berujung pengeroyokan yang menewaskan Abdul Rahman (60), warga Kampung Bumi Aji, dan Edison Raka (40), warga Kampung Haji Pemanggilan Kecamatan Anak Tuha, Kabupaten Lampung Tengah (Lamteng) pada Januari lalu.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Lamteng, Rizka Nurdiansyah menjelaskan, dalam sidang kedua yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Gunung Sugih pada Kamis, 8 Juli 2021 kemarin, disebutkan dugaan keterlibatan 15 tersangka pada peristiwa di Anak Tuha beberapa waktu lalu. Sebanyak 10 orang dijerat Pasal 338 tentang pembunuhan dan lima orang lainnya dikenakan Pasal 365 tentang pencurian dengan kekerasan.

Untuk perkara pembunuhan, keterangan saksi-saksi dalam persidangan sudah mengarah bahwa para terdakwa melakukan pembacokan. Sementara untuk perkara 365, agenda sidang ditunda lantaran para saksi belum siap memberikan keterangan.

"Sidang untuk perkara 365 sementara ditunda dan akan dilanjutkan pada Senin, 12 Juli 2021," kata dia, Jumat, 9 Juli 2021. 

Baca: Keluarga Korban Duga Pembunuhan di Anak Tuha Direncanakan

 

Para tersangka dalam kasus pembunuhan tersebut adalah Ali Bastari, Hasan Basri, Wahid, Ahmad Yunus, Harun, Zulkifli, Yulianto, Muhidin, Zainal Abidin, dan M. Rohim. Sementara Lima tersangka yang dikenakan Pasal 365 adalah Suep alias Prima, Amirdin, Masrul, Suhada, dan Fauzan. 

Sebelumnya diberitakan, perwakilan keluarga korban tewas pada kasus sengketa lahan di Anak Tuha meminta penegak hukum mengganjar para pelaku seberat-beratnya. Mereka menduga kasus tersebut bermotif pembunuhan berencana. 

Hal itu disampaikan keluarga korban menyusul digelarnya sidang perdana di PN Gunung sugih, pada Kamis, 1 Juli 2021, kemarin. Perwakilan keluarga korban, Deby Oktarian, menjelaskan keluarga korban Abdul Rahman (60), warga Kampung Bumi Aji, dan Edison Raka (40), warga Kampung Haji Pemanggilan, Kecamatan Anak Tuha aparat penegak hukum, khususnya Kejaksaan dan Pengadilan Negeri Lamteng untuk memutuskan perkara dugaan pembunuhan tersebut dengan seberat-beratnya.

"Ini kan pembunuhan berencana. Kenapa hanya Pasal 338 yang disangkakan? Saya tahu persis perkara ini, karena saya bersama rekan-rekan Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Bandar Lampung memberikan pendampingan hukum kepada korban mulai dari awal sampai dengan selesai," ungkapnya. 

Tak hanya itu, Derbi juga memaparkan adanya temuan di lapangan berupa absensi pengumpulan massa untuk melakukan penyerangan terhadap korban. 

"Kami juga sudah memberitahukan kepada pihak kepolisian bahwa sebelum terjadi pembunuhan memang sudah direncanakan," lanjutnya.

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar