JAKARTA (Lampost.co) -- Yayasan Hipertensi Paru Indonesia (YHPI), komunitas pasien, keluarga, dan dokter pemerhati Hipertensi Paru di Indonesia, mendorong pemerintah untuk mengakselerasi layanan dan pengobatan bagi pasien Hipertensi Paru di Indonesia.

Layanan kesehatan ini meliputi fasilitas pemeriksaan, perawatan, hingga pemenuhan kebutuhan obat-obatan yang luas, berkualitas dan terjangkau.



Harapan kelompok pasien ini mengemuka dalam dialog antar para pemangku kepentingan bertajuk, “Mewaspadai Hipertensi Paru dan Membuka Akses Pasien untuk Mendapatkan Layanan Kesehatan Berkualitas” yang diadakan di Jakarta Selasa (24/9/2018).

Dialog menghadirkan perwakilan pasien Hipertensi Paru,  ahli Hipertensi Paru dari beberapa rumah sakit di Indonesia, dan perwakilan Kementrian Kesehatan Penyakit Hipertensi Paru banyak dialami oleh anak-anak serta perempuan dari negara-negara berkembang.

Kendati jumlah angka dan data terkini untuk Indonesia belum tersedia, namun upaya penanganan semenjak dini diperlukan. "Selain demi kesehatan pasien itu sendiri, apabila ditangani, beban negara dan masyarakat juga akan makin besar bila Hipertensi Paru sudah berkomplikasi lebih lanjut," ujar Indriani Ginoto, Ketua Umum YHPI.

Hipertensi Paru adalah suatu kondisi terjadinya tekanan darah tinggi di arteri pulmonalis/paru, membuat jantung kanan bekerja ekstra keras dan dapat berakibat fatal dalam waktu cepat. Tingkat kematian karena Hipertensi Paru lebih tinggi dibandingkan kanker payudara dan kanker kolorektal.

Berdasarkan data yang dihimpun YHPI selama beberapa tahun terakhir, prevalensi Hipertensi Paru di dunia adalah 1 pasien per 10.000 penduduk, artinya diperkirakan terdapat 25 ribu pasien Hipertensi Paru di Indonesia. Sebanyak 80% pasien Hipertensi Paru tinggal di negara-negara berkembang dimana Hipertensi Paru sering dikaitkan dengan penyakit jantung bawaan, penyakit paru lainnya (seperti penyakit paru obstruktif kronis, PPOK), autoimun, pembekuan darah (emboli), dan sebagainya.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR