PADA waktu jeda saat ujian promosi doktor Iskandar Zulkarnain, pemimpin redaksi harian ini, dewan penguji mengadakan rapat di ruang istirahat. Saat itu, Profesor Moh Mukri sebagai pimpinan sidang mengeluarkan komentar bahwa pada era sekarang ini secara substantif ada kemiripan pada zaman Firaun.

Pada zaman itu, yang dipercaya untuk memberi info termasuk ramalan adalah para tukang sihir yang berfungsi sekaligus sebagai tukang nujum. Kala itu, ahli nujum meramalkan kejatuhan Firaun akan terjadi karena lahirnya seorang bayi laki-laki dan akan menantang Firaun. Karena Firaun adalah penguasa jagat pada waktu itu, beliau bertitah supaya setiap bayi laki-laki yang lahir langsung dibunuh.



Kedahsyatan pengaruh tukang-tukang nujum Firaun ini ternyata membawa dampak terhadap keputusan pemerintahan Firaun. Beliau melanjutkan pada masa Firaun, tukang sihir ini diorganisasi sedemikian rupa oleh negara dan diberi otonomi khusus, terutama untuk masalah pernujuman.

Kini, semua orang bisa jadi tukang nujum. Dengan bermodal gawai, sesorang dapat menulis apa saja yang dia kehendaki. Apalagi, ada celah yang tidak terjangkau oleh Undang-Undang Pers serta Undang-Undang Teknologi dan Informasi (beliau merujuk pada sanggahan penulis pada promovendus). Dengan demikian, wilayah abu-abu ini dapat dimanfaatkan dengan mengatasnamakan apa pun, termasuk atas nama demokrasi, atas nama kebebasan berpendapat, atas nama hak berpendapat, atas nama agama, dan masih banyak lagi. Diskusi tersebut terputus dengan bunyi yang dihentakkan pedel karena upacara pengumuman segera dimulai.

Jarimu Harimaumu

Sisa dari diskusi itu mengekor sampai terbawa ke kampus tatkala harus berbagi ilmu dengan mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan. Renungan menjadi kontemplasi saat dirunut dengan kondisi nyata yang ada. Ternyata, gegap gempitanya pemberitaan sekarang tidak lagi menjadi domain para jurnalis terpelajar.

Pemberitaan sudah banyak diambil alih oleh siapa saja yang berkeinginan mewartakan tentang sesuatu. Tentang sesuatu itu tidak harus peristiwa nyata seperti yang dipersyaratkan oleh aturan jurnalistik formal. Ternyata, sesuatu yang masih berada di angan-angan pun sudah dapat dijadikan berita.

Saudara Abdul Gafur dari harian ini pada 1 September lalu mem-fotenote pendapat penulis tentang Ujung Jarimu adalah Harimaumu. Tulisan itu memberikan ulasan mendasar bagaimana tipe “jurnalis jadi-jadian” ini. Akan tetapi, arus utama ini tidak mungkin terbendung, bahkan menjadi masif, sekalipun data-data yang ditunjukkan Gafur begitu mengerikan berkaitan dengan pelanggaran undang-undang akibat dari kecerobahan menggunakan ujung jari dalam menekan tuts gawai.

Persoalan-persoalan mendasar ini membuat kegelisahan seorang Iskandar Zulkarnain sangat kentara, terutama pada waktu memberikan sanggahan-sanggahan atas keberatan para penguji saat sidang promosi. Jawaban-jawaban panjang yang diberikan Iskandar ternyata banyak meninggalkan jejak masalah baru pada zaman kekinian (jaman henow, meminjam istilah Abdul Gafur).

Tantangan untuk memberagamkan usaha jurnalis ternyata juga harus diikuti dengan keunikan entitas. Karena tanpa keunikan entitas, produk jurnalis itu akan ditinggalkan penggemarnya.

Era Tutur Tinular sudah berlalu, Empu Bajil sudah dimatikan oleh sang sutradara. Namun, sekarang Empu Bajil bangkit kembali dengan menggunakan casing baru dalam cerita baru, yaitu Berita Menular. Penularan ini bisa saja positif, artinya sesuatu yang nyata terjadi. Namun, tidak jarang sesuatu yang baru merupakan mimpi sudah di-posting seolah nyata karena kepandaian memainkan kata.

Maka, suatu peristiwa belum tentu kebenarannya, tetapi karena mampu membentuk opini masa melalui “berita menular”, bisa saja seseorang dimasukkan penjara walau tidak diketahui apa dosanya. Yang lebih celaka lagi, dosanya “dibuatkan” sehingga sesuatu yang tidak jelas dijadikan seolah-olah jelas.

Otak kita seolah dirudapaksa untuk menerima apa yang terbaca, bukan apa yang nyata. Meminjam istilah Filsafat Ilmu, antara objek formal dan objek material sudah dikacaukan sedemikian rupa, sehingga para pembaca akan tergiring pada satu kesimpulan untuk mengatakan “ya” kepada sesuatu yang belum tentu “ya”.

Romantisme yang dipaksakan serupa ini tentu akan membuat kacaunya jagat ini. Sebagai gambaran, kita disuguhkan kepada orang mengemukakan pendapat, sekalipun pendapat itu melanggar hak orang lain, tetap saja dipaksakan kepada orang lain sehingga terjadi kekisruhan berpikir pada kita semua.

Kekeruhan pada dunia informasi serupa ini hanya mereka yang mampu mengendalikan diri yang akan selamat. Sementara, mereka yang urat singgungnya pendek tidak jarang akan terjadi konflik jurnalistik di jagat maya atau lebih parah lagi memperpendek umur biologisnya karena tekanan darahnya naik. Sebagai contoh, hampir terpancingnya emosi seorang profesor hukum yang terkenal di Indonesia ini gegara komentar seorang anggota legeslatif yang tidak akademis.

Nasionalisme Gawai

Kondisi ini menjadi lebih rumit lagi bersamaan dengan waktu sekarang tumbuhnya nasionalisme baru pada generasi now. Semangat nasionalisme yang patriotis pada zaman old dimaknai secara abstrak. Sekarang maknanya harus nyata, terukur, dan cenderung instan.

Sukarelawan Pasukan Sadar Lingkungan yang ikut bergabung membersihkan Gelora Bung Karno saat berlangsungnya pesta olahraga Asia betul-betul tidak terorganisasi secara terstruktur. Namun, mereka terbentuk dan bergerak secara nyata karena disatukan semangatnya untuk berbuat nyata untuk negeri ini melalui gawai mereka.

Organisasi tanpa Bentuk yang pada zaman Orde Baru dikonotasikan atau dilabelkan kepada Organisasi Kiri, yang berhaluan komunis dan sangat dilarang keberadaannya serta harus ditumpas sampai akar-akarnya, justru sekarang Organisasi tanpa Bentuk ini mudah sekali terbentuk dan bisa saja tidak berafiliasi dengan organisasi besar.

Mereka terbentuk hanya karena kesamaan pandang dan ingin berbuat nyata. Lagi-lagi, “nasionalisme gawai” ini tampaknya akan mudah terbentuk seiring dengan kemajuan teknologi. Mereka tidak perlu rapat dalam arti berada pada satu tempat yang sama di waktu yang sama. Pertemuan mereka cukup menggunakan layar video pada gawainya.

Roda Perubahan

Kegalauan Iskandar Zulkarnain sebenarnya kegalauan kita semua dalam menapaki zaman ini. Latar belakang kegalauan yang membuat Iskandar Zulkarnain menjadi doktor itu harusnya memicu kita semua untuk menyatukan langkah dalam menyongsong era baru, yaitu era tanpa batas dan tanpa bentuk.

Gulung tikarnya koran kertas, studio radio, dan stasiun televisi adalah merupakan kejamnya gilasan roda perubahan di wilayah jurnalistik. Sebentar lagi, roda itu akan berputar dan memangsa wilayah lain, di antaranya wilayah proses pembelajaran di perguruan tinggi. Perguruan tinggi tidak lagi harus berbiaya mahal dengan mendatangkan narasumbernya di hadapan sejumlah orang. Namun, bisa jadi hanya memerlukan beberapa narasumber untuk beribu orang, yang melampaui jarak dan waktu, cukup dibantu dengan sistem perangkat lunak yang mobile.

Gedung-gedung ruang kelas pada waktunya tidak diperlukan lagi, tetapi peranti hubung personal yang canggih itu yang diperlukan. Ujian akhir mahasiswa/siswa saat ini tidak perlu pengawas yang banyak dan berbiaya mahal. Mereka cukup dilayani dengan peranti personal yang tidak memerlukan pengawasan, apalagi biaya kudapan, honor mengawas, honor koreksi, honor petugas keamanan mengawal soal, honor menjaga soal, dan sebagainya. Yang diperlukan hanya catu listrik yang tidak boleh putus sedetik pun, serta peranti megabita yang besar untuk membangun jaringan antarsistem.

Era itu sudah di depan mata. Iskandar Zulkarnain sudah juga mengingatkan. Tinggal kita semua jika ingin selamat dari tsunami sosial, kita harus cepat beradaptasi atas kehadiran gelombang besar itu. Pilihan kita hanya tinggal dua: berubah jika ingin selamat atau mati tergerus zaman. Mari kita berselancar bersama gelombang zaman. Selamat menikmati perubahan.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR