LEBIH baik hidup tanpa listrik daripada hidup tanpa air. Adagium itu telah banyak diakui oleh masyarakat saat ditanyai mengenai pentingnya air bagi kehidupan. Air yang merupakan sumber utama kehidupan menjadi sangat berarti ketika kita mengalami kekeringan atau kurangnya ketersediaan air bersih.

Kebutuhan akan air bersih semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Hal itu diperkuat dengan faktor pertambahan jumlah penduduk yang pesat dan sumber daya air bersih yang terus menurun. Telah banyak kita dengar daerah-daerah di Indonesia yang mengalami kekeringan, bahkan dampaknya hingga merenggut korban jiwa.



Walaupun kematian yang diakibatkan oleh krisis air bersih jarang terjadi, angka terjadinya masalah ini masih cukup tinggi. Melalui tema Nature for Water (Alam untuk Air) yang diangkat pada peringatan Hari Air Sedunia pada tahun ini, saya sebagai mahasiswa dan penduduk asli Lampung turut prihatin akan keterbatasan air bersih di provinsi kelahiran saya ini.

Kondisi Lampung

Hingga saat kini, United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) tahun 2018 menyatakan bahwa sebanyak 1,9 juta orang di Lampung tinggal di kawasan langka air. Ironis memang, kondisi alam Bumi Pertiwi yang sangat kaya dan berlimpah sumber daya airnya ini ternyata masih mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan air bersih di beberapa daerah.

Beberapa daerah di Lampung, seperti Metro, Tulangbawang, Tulangbawang Barat, Mesuji, Lampung Timur, Way Kanan, Pesawaran, dan Pesisir Barat, kondisi ketersediaan air bersihnya cukup memprihatinkan. Faktor penyebanya, selain daerah-daerah tersebut memang kering, kualitas air bakunya juga rendah. Faktor lainnya, kondisi ekonomi masyarakat yang tidak memungkinkan untuk membuat sumur artesis di setiap rumah mereka.

Sementara itu, kondisi di Kota Bandar Lampung tak jauh berbeda. Kota yang memiliki jumlah penduduk lebih dari 1 juta jiwa, berdasar pada sensus penduduk tahun 2015, ini menjadi salah satu kota yang beberapa kecamatan di dalamnya mengalami kesulitan dalam memperoleh air bersih.

Dari informasi yang masuk hingga akhir tahun lalu mengenai permasalahan krisis air, daerah yang mengalami kekurangan air antara lain Kecamatan Panjang, Kecamatan Telukbetung, Kecamatan Kedaton, dan Kecamatan Way Halim. Beberapa warga yang melaporkan informasi atas sulitnya memperoleh air bersih ini dikarenakan sumur maupun sumber air yang ada kering dan pasokan air dari perusahaan daerah air minum (PDAM) juga tidak mengalir.

Belum Tuntas

Kekeringan yang terjadi di beberapa kecamatan di Bandar Lampung selama ini telah mengalami penindakan lebih lanjut dari pemerintah. Upaya yang ada seperti perencanaan yang telah dicanangkan sejak tahun 2013 yaitu penyediaan air curah 41 megaliter/day (MLD) di Bandar Lampung.

Selain itu, kerja sama dengan partisipasi badan usaha swasta untuk ikut dalam pengembangan kerja sama pemerintah swasta dalam sistem penyediaan air minum (KPS SPAM) yang telah masyarakat rasakan dengan mengonsumsi air siap minum yang berasal dari pihak swasta.

Mungkin masih banyak hal yang direncanakan ataupun upaya yang telah dilakukan baik oleh pemerintahan maupun masyarakat untuk mengupayakan ketersediaan air bersih bagi masyarakat Bandar Lampung. Namun, hingga saat ini permasalahan krisis air bersih masih kita dengar dan belum teratasi secara tuntas.

Sebagai warga Kota Bandar Lampung, selama 20 tahun sesekali saya mengalami kesulitan dalam pemenuhan akan kebutuhan air bersih. Permasalahan pemenuhan kebutuhan air dari PDAM masih sangat kurang. Sebab, air tidak mengalir dalam waktu yang cukup lama.

Dengan kejadian yang terus-menerus dialami masyarakat, khususnya yang mengandalkan PDAM, hal ini tentunya sangat memberatkan masyarakat, mengingat air bersih merupakan sumber utama kehidupan. Peningkatan kajian bagi kinerja PDAM baiknya dapat dilakukan lebih tegas oleh pihak yang berwenang.

Dapat kita lihat sebagai contoh PDAM Way Rilau yang sejak 2013 dinyatakan masih sangat rendah cakupan penyediaan air minum bagi masyarakat Bandar Lampung yaitu sebesar 24%. Melihat hal ini, pemerintah perlu mengkaji ketersediaan air baku yang dibutuhkan bahkan jika diharuskan dapat melakukan peremajaan sistem distribusi air bersih ke masyarakat yang selama ini mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan air bersih dari PDAM.

Peran Masyarakat

Adapun upaya lain yang dapat dilakukan oleh masyarakat seperti membuat bak penampungan air hujan pada saat musim hujan tiba. Selain itu, melakukan tindakan terhadap air tanah dengan perencanaan yang dibuat komunal seperti pengadaan sumur artesis, pengadaan terminal air yang dipasok dari tangki air yang didistribusikan oleh truk-truk pembawa air bersih, atau bahkan membuat bangunan perlindungan mata air jika ada. Dengan begitu, saat kemarau tiba, masyarakat tidak mengalami penurunan yang drastis atas keterbatasan air bersih.

Masyarakat juga sebaiknya tidak lepas andil dalam upaya untuk meningkatkan ketersediaan air bersih karena air yang digunakan sepenuhnya adalah dari, oleh, dan untuk masyarakat. Membudidayakan kebiasaan baik dalam menggunakan dan menyimpan air sangat penting disosialisasikan guna membangun masyarakat yang peduli akan alam kita, khususnya Sang Bumi Ruwa Jurai, di masa yang akan datang.

Kebiasaan dalam menghemat serta bijak dalam mengonsumsi air bersih akan menciptakan keselarasan baik masyarakat maupun pemerintah untuk mewujudkan Bandar Lampung yang sejahtera dan berkecukupan dalam hal kebutuhan air bersih.

Tercapainya harapan untuk menjadikan alam yang menyeimbangkan siklus air yang baik melalui peringatan Hari Air Sedunia tahun 2018 ini juga dapat didukung dengan masyarakat yang didorong dan bekerja sama dengan pihak-pihak yang peduli akan bumi kita.

Jumlah air akan tetap sama, tetapi kualitasnya akan semakin memburuk jika kita tidak mempertahankan keseimbangan alam. Mari jaga bumi Lampung! Mari budayakan hemat air bersih untuk masa depan sejahtera!

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR