KRUI (Lampost.co)--Masyarakat adat menilai Kedatangan wisatawan luar negeri yang tiada putusnya ke Krui, Pesisir Barat, sebagai salah satu wilayah destinasi utama wisatawan di Lampung, perlu ada upaya pelestarian adat setempat.

Sebab, kehadiran para wisatawan tersebut bisa saja membawa dampak negatif bagi kelestarian dan kearifan budaya lokal, sementara dari sisi pariwisata memberikan hal positif.



Hal itu diungkapkan Ketua Majelis Penyeimbang Adat Lampung (MPAL)  kabupaten Pesisir Barat Saibatin Marga Way Napal, Putrawan Jayaningrat, kepada Lampost.co, Senin (3/9/2018). Pria yang bergelar Suntan Pangeran Dalom Simbangan Ratu itu mengatakan bagaimana masyarakat adat, pemkab,  pihak swasta agen travelling,  pengusaha penginapan hotel, dan perwakilan wisatawan dapat duduk bersama membahas hal itu.

Karena, kata dia,  bukan hanya efek positif yang didapat, namun saat ini diakui kadang di jalan raya utama di pusat kota kabupaten itu, para turis hanya memakai celana pendek tanpa baju mengendarai motor dengan bebasnya.  Belum lagi turis wanita agar berpakaian sopan kalau berada di tempat umum,  atau lokasi pantai yang umumnya merupakan tempat warga lokal juga sering datang. 

"Sampai sekarang belum ada masyarakat adat para saibatin duduk satu meja dengan para pihak membicarakan hal ini.  Krui kan sudah jadi destinasi utama wisata pemerintah harus melalukan penguatan lembaga lokal masyarakat adat, pekon. Meski sebenarnya paling utama memberikan pengetahuan kepada para turis tersebut yaitu agen travel 

Pakai helm dan pakai baju kalu bermotoran. Diberi pengertian daerah tujuan wisata ini bukan wilayah tanpa hukum , wisatawan dimanja sampai terkesan tidak ada aturan, tidak seperti itu, kata Putrawan. 

Pihaknya menilai gelar kabupaten Pesisir Barat saat ini negeri para saibatin dan para ulama baru sebatas slogan belum diimplementasikan secara maksimal. 

Meski demikian Ia mengapresiasi berbagai upaya pemkab dalam menonjolkan adat budaya kearifan lokal kabupaten itu.
"Sudah cukup bagus rapat paripurna pemkab dan DPRD yang pesertanya memakai pakaian adat Lampung , ada festival nyuncun pahar, dan lainnya yang mengusung kearifan lokal," ujarnya.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR