BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Masyarakat khususnya anak muda generasi millenial dituntut untuk mewaspadai hoaks busting dan digital hygiene. Apalagi teknologi informasi yang berkembang saat ini luar biasa cepatnya diplat form media sosial dan internet.

Ketua Program Studi Megister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung, Dr. Andy Cory mengatakan zaman sekarang masyarakat cenderung lebih percaya kepada sesuatu informasi hal yang tidak benar baik itu tentang sosial, ekonomi, politik dan sebagainya sehingga menimbulkan kerugian dan kekhawatiran.



"Masalahnya saat ini orang tidak mau repot. Kadang orang dapat informasi langsung share keorang lain tanpa dilakukan penyaringan terlebih dahulu," katanya usai workshop bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung dan Google News Initiative di Gedung A.1.1 Dekanat FISIP Universitas Lampung, Rabu (24/7/2019).

Kemudian ia mengatakan masyarakat harus menyisihkan waktu untuk mengklarifikasi berita atau informasi yang tidak benar atau bohong. Maka dari itu masyarakat harus diedukasi dan diberi pemahaman apabila mendapatkan informasi yang mencurigakan. Masyarakat harus lebih croscek dan memperkaya literasi.

"Kemudian kita harus belajar memahami berita bohong atau tidak. Seperti web-web atau informasi sepotong-sepotong yang tidak jelas jangan mudah dipercaya. Lalu seperti ada pesan-pesan yang ada tulisan viralkan. Nah ini ada indikasi berita bohong," katanya.

Sementara itu narasumber workshop tersebut dari Trainer Google News Initiative, Fakhrurodzi mengatakan bahwa masyarakat jangan latah menyebarkan informasi. Sebelum menyebarkan berita, terlebih dahulu menyaring berita tersebut. Apabila berita tidak benar dan masih ragu-ragu kebenarannya maka jangan di share kepada yang lain.

"Dari 250 juta penduduk Indonesia, hanya 250 ribu saja masyarakat yang membaca buku dan literasi. Artinya minim literasi dan pengetahuan membuat hoaks tumbuh subur," katanya.

 

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR