WASPADA level II begitulah status Gunung Anak Krakatau (GAK) saat ini, 25 Juli 2018. Sebulan sudah letusan terjadi di GAK, tepatnya 25 Juni 2018.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mengeluarkan peringatan kepada masyarakat maupun wisatawan agar tidak mendekat hingga radius 1 kilometer. Peringatan itu dikeluarkan untuk mencegah terjadinya korban jiwa karena aktivitas GAK yang terus meningkat.



Tidak dapat membayangkan betapa ngerinya masyarakat sekitar yang mendengar suara dentuman dan getaran akibat aktivitas magma di gunung setinggi 305 mdpl itu. Belum lagi sinar api, guguran lava pijar, dan kepulan awan panas yang dimuntahkan anak Gunung Krakatau.

Mengutip laporan PVMBG, aktivitas gunung api periode pengamatan pada Selasa (24/7), pukul 00.00—24.00, tercatat kegempaan tremor terus max 7—82 mm, dominan 60 mm, dengan kondisi cuaca cerah dan berawan disertai ombak laut tenang.

Gunung itu juga mengeluarkan letusan hingga 232 kali, amplitudo 21—81 mm dengan durasi 15—151 detik. Kemudian hembusan awan panas 136 kali dengan amplitudo 3—21 mm dan durasi 15—93 detik.

Kita tentu tak berharap sejarah kelam letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada Mei hingga Agustus 1883 terjadi. Betapa tidak, berawal dari Mei, Krakatau terus aktif hingga puncaknya di Agustus, gunung gagah itu meledak sejadi-jadinya.

Membuat dunia bergoncang 10 ribu kali lipat dari bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Dunia seakan berakhir, mayat-mayat terbakar bergelimpangan dengan jumlah yang tidak bisa terhitung lagi.

Ngeri dan benar-benar menjadi potret sempurna kiamat. Kita yang hidup di hari ini takkan pernah bisa membayangkannya. Sejarah mencatat ledakan Gunung Krakatau terdengar hingga Srilanka dan Australia.

Tsunami besar terjadi hingga mengalahkan tsunami Aceh yang terjadi beberapa tahun lalu. Bumi menjadi gelap dan dingin lantaran tertutup abu vulkanik hingga lima tahun lamanya.

Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti pembaca. Melainkan untuk mengingatkan apa yang telah Anda persiapkan manakala kiamat kecil ini terjadi, manakala kematian menjemput? Sudah siapkah bekal akhirat Anda?

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR