ANAK perempuan dalam sistem kekerabatan adat Lampung yang patrilineal pada dasarnya tidak mendapat waris. Anak perempuan yang telah menikah yang kemudian mengikuti kerabat keluarga suaminya disebut pirul biasanya mendapatkan waris melalui pemberian sansan, yaitu berupa rumah dan atau seperangkat perabot rumah tangga lengkap kepada anak perempuan dan calon suaminya.

Selain itu kebijakan keluarga atau orang tua masing-masing memberikan peran dan porsi tersendiri untuk memberi sebagian warisan untuk anak perempuan tersebut.



Sebuah keadaan khusus, jika dalam sebuah keluarga tidak memiliki anak laki-laki, tetapi memiliki anak perempuan saja, dimungkinkan melakukan pengangkatan anak secara adat dan melakukan sebuah perkawinan adat semanda (ngakuk ragah). Yang artinya perkawinan itu terjadi dikarenakan sebuah keluarga hanya mempunyai anak wanita, anak wanita itu mengambil pria untuk dijadikan suami dan mengikuti kerabat istri untuk selama perkawinan guna menjadi penerus keturunan pihak istri.

Istilah adat Lampung untuk anak angkat tersebut disebut anak mentuha. Secara adat anak tersebut akan terputus hubungannya kepada orang tua kandungnya, secara adat dan secara pribadi, tetapi secara hukum agama dan hukum nasional, pemutusan hubungan itu tidak terjadi.

Dalam proses pewarisan adat, masyarakat adat Lampung dalam praktiknya nyaris tidak pernah melakukan sidang adat terkait dengan sengketa perkara warisan adat, istilah gugatan yang dilakukan oleh ahli waris kepada pewaris sebagaimana yang diatur dalam hukum perdata barat tidak dikenal dalam hukum adat Lampung. Sebab hal yang paling mendasar yang menjadi asas dalam penerusan hukum adat waris adalah ketuhanan, kerukunan, kekeluargaan, kebersamaan, gotong royong, dan musyawarah mufakat. Pembagian warisan yang dilakukan secara rukun dan damai serta memperhatikan keadaan-keadaan khusus setiap ahli waris.

Masyarakat adat Lampung yang memiliki nilai sosial piil pesinggiri akan merasa malu apabila masalah internal keluarga, seperti masalah warisan harus diperlihatkan ke umum. Memperselisihkan sebuah warisan merupakan perbuatan yang dianggap tabu dan bertentangan dengan kebiasaan moral dengan istilah melanggar adat atau tidak tahu adat (cempalo).

Kalaupun harus ada masalah sengketa waris biasanya masalah tersebut akan diselesaikan melalui rapat internal keluarga dengan mengundang tokoh adat sebagai penengah permasalahan. Namun apabila permasalahan tersebut tidak selesai juga, upaya hukum terakhir yang digunakan selanjutnya adalah melalui ranah hukum perdata atau hukum peradilan agama. n

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR