SISTEM waris adat Lampung yang menjadikan anak tertua laki-laki berkewajiban mengelola dan bertanggung jawab terhadap anggota keluarga pewaris sehingga anak laki-laki tertua tersebut selain mendapatkan anugerah haknya untuk menerima waris, yaitu hak waris harta pusaka tinggi, ia juga dibebani kewajiban-kewajiban yang sangat berat.

Kewajiban tersebut adalah begitu anak laki-laki tersebut menikah, seluruh tanggung jawab ayahnya baik ke luar maupun ke dalam, beralih kepadanya. Misalnya kegiatan ke luar, seperti bugawi adat, melaksanakan upacara-upacara adat dalam keluarga, menghadiri undangan-undangan acara adat, membayar iuran adat berupa pajak adat atau denda adat membantu mendirikan rumah keluarganya, mengelola rumah tua (nuwo tuho), mengusahakan dalam pelaksanaan menanam padi atau nugal, menuai padi atau ngegetas, serta mengusahakan menanam pohon di repong-repong.



Kedudukan anak laki-laki tertua tidak saja sebagai penerima warisan dan penerus keturunan orang tuanya, tetapi juga mempunyai kedudukan sebagai penerus kepunyimbangan orang tuanya. Sebagai pemimpin yang mempunyai hak mutlak atas kekayaan, warisan maupun pusaka dari kerabat orang tuanya. Sebagai pemimpin yang berhak dan bertanggung jawab kepada kerabat, keturunan, serta adik-adiknya baik bertindak atas nama kepunyimbangan (kedudukan atau pemimpin) adat maupun kekerabatan.

Beberapa cara dalam proses pewarisan yang dilakukan oleh masyarakat adat Lampung adalah dengan cara penerusan atau pengalihan dan dengan cara penunjukan. Cara pewarisan dengan penerusan atau pengalihan hak atas kedudukan dan harta kekayaan itu berlaku pada saat pewaris berumur lanjut, ahli waris anak laki-laki tertua juga jika sudah mapan berumah tangga.

Cara pewarisan tersebut berakibat pada perpindahan hak dan kewajiban sebagai kepala rumah tangga, tetapi pewaris karena masih hidup masih memiliki peran sebagai penasihat. 

Penerusan atau pengalihan itu juga sebagai dasar kebendaan bagi pewaris untuk memberikan barang-barang tertentu kepada para ahli waris lainnya yang ingin menikah, seperti bidang-bidang tanah ladang, rumah dan pekarangannya, serta kebun atau sawah. BERSAMBUNG

loading...

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR