MASYARAKAT adat Lampung termasuk dalam golongan masyarakat adat yang bersifat patrilineal. Masyarakat adat patrilineal memiliki konsep dasar kekerabatan yang berdasarkan pada garis keturunan laki-laki atau menghubungkan diri dengan 

Dalam masyarakat adat patrilineal keturunan dari bapak (laki-laki) dinilai mempunyai kedudukan lebih tinggi serta hak-haknya juga akan mendapatkan lebih banyak. Hal itu secara serta-merta akan memengaruhi sistem perwarisan adat berupa penerusan harta waris kepada anak laki-laki, khususnya anak laki-laki tertua. 
Seorang ahli waris dalam hal ini anak tertua laki-laki dalam hukum adat Lampung akan memegang peranan penting di kehidupan keluarganya. Sebab dia dianggap sebagai pengganti kepala keluarga sehingga wajib untuk bertanggung jawab penuh dalam menjaga, melayani, dan melindungi keluarga besarnya, baik dalam hal pengurusan harta waris yang ditinggalkan maupun atas anggota keluarga yang ditinggalkan oleh pewaris. Kemudian menjaga keberlangsungan garis kepenyimbangan serta menjaga nama baik keluarga.
Di kalangan masyarakat adat Lampung, anak tertua laki-laki adalah ahli waris utama yang menguasai seluruh harta peninggalan orang tuanya. Dengan kewajiban mengganti kedudukan ayahnya yang sudah tua atau wafat sebagai kepala keluarga, yang bertanggung jawab mengurus dan memelihara adik-adiknya yang belum dewasa sampai kelak dapat hidup dengan mandiri. Anak laki-laki tertua di sini adalah anak laki-laki paling tua yang masih hidup saat pewaris meninggal dan mewariskan hartanya, jadi tidak hanya terpaku pada anak sulung.
Apabila anak laki-laki sulung meninggal, sedangkan anak laki-laki kedua masih hidup, yang kedua tersebut yang masuk kategori tertua dan mendapat bagian warisan bapaknya.
Ada dua bentuk harta warisan dalam masyarakat adat Lampung. Pertama, harta warisan adat yang tidak dapat dibagi-bagi. Harta warisan adat yang tidak dapat dibagi-bagi memiliki arti bahwa harta tersebut hanya dapat dimiliki bersama oleh para ahli waris, tidak dapat dikuasai secara perseorangan. 
Kemudian harta tersebut biasa disebut harta pusaka yang turun-temurun diwariskan kepada penerus keturunannya. Harta itu dikuasai oleh punyimbang atau anak laki-laki tertua atau kerabat laki-laki si pewaris menurut tingkatannya masing-masing. 
 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR