PRINGSEWU (Lampost.co)-- Belasan warga Pekon Banjarejo Kecamatan Banyumas, mendesak manajemen pembangunan bendungan Way Sekampung segera membayar ganti rugi lahan diaposal atau lahan yang tertimbun tanah galian. 
 
Tuntutan itu berlangsung saat di langsungkan pertemuan antara pihak bendungan Way Sekampung dengan masyarakat di Balai Pekon Banjarejo, Rabu (6/3/2019). 
 
Pertemuan di hadiri sejumlah pegawai Bendungan Way Sekampung, Camat Banyumas Moudy Nazola dan warga setempat termasuk LSM GMBI. Pertemuan yang berlangsung sekitar tiga jam mulai pukul 14.00-17.30 itu sempat saling adu argumentasi. Tetapi warga sepakat menunggu proses kelengkapan data dari pihak warga. 
 
Menurut Kepala Pekon Banjarejo sekaligus memimpin pertemuan Herman, menjelaskan munculnya tuntutan warga atas ganti rugi lahan tambah ukur atau tanah diaposal karena sebelumnya pihak perusahaan menjanjikan pembayaran pada tahun 2018. 
 
Herman menambahkan tanah milik warga Pekon Banjarejo yang terkena proyek bendungan, seluas 105 bidang atau 50 hektar dengan pemilik 90 orang. Lokasi tersebut sudah dibayarkan ganti ruginya, tetapi saat proses penggalian lahan bendungan ternyata tanah hasil kerukan alat berat menimbun lahan warga diluar yang sudah diganti rugi. 
 
Akibatnya warga menuntut lagi minta untuk diganti rugi kembali. Dalam proses negosiasi bersana warga terjadilah kesepakatan di beri uang kerohiman sejumlah Rp6.000/meter. "Tanah diaposal saat ini luasnya sekitar sekitar 20 ha dengan pemilik 18 orang," kata Herman. 
 
Camat Banyumas Moudy Nazola menyatakan selain membahas soal ganti rugi, warga juga meminta ada perhatian pihak perusahaan akibat dampak sosial pembangunan proyek tersebut. 
 
Dia menambahkan dampak sosial yang menimpa warga seperti aliran irigasi yang tersumbat serta ayam mati akibat kerasnya dinamit. Atas persoalan itu warga meminta ada kepedulian dari perusahaan. 
 

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR