MESUJI (Lampost.co)--Warga Kabupaten Mesuji mendesak Pemkab setempat mengaktifkan kartu BPJS Kesehatan yang dibiayai APBD. Pasalnya, dari 33 ribu warga yang di-cover BPJS saat ini kuatir jika jatuh sakit dan harus mengeluarkan sendiri biaya perobatan.

Murdi (37), Warga Desa Gedungram, mengatakan dua kali menemani warga yang memiliki kartu BPJS berobat. Namun warga harus kecewa karena kartunya dinyatakan tidak berlaku. "Jadi, kita cari utangan, untuk bayar biaya faskes, entah nanti bayarnya pakai apa," ujarnya, Kamis (4/4/2019).
Hal senada disampaikan Kepala Desa di Mesuji yang tidak mau disebut namanya mengatakan sebagai kepala desa ia yang paling ketiban pulung. Karena semua warga yang sakit menggunakan BPJS dari pemda tidak bisa digunakan alias ditolak fasilitas kesehatan. 
"Saya sudah berulang kali ngurus warga di puskes gara-gara kartu BPJS nonaktif ini. Ya akhirnya, kita urunan dengan tetangga untuk bayar biaya berobat. Soalnya darurat. Harus mendapat tindakan operasi. Padahal data warga untuk BPJS sudah berulang kali dikirim, baik melalui kecamatan atau langsung ke dinsos," ujarnya.



Ditemui dikantor Dinas Sosial, Kabid Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Azwar, membenarkan jika sampai saat ini 33 ribu kartu BPJS belum dibagikan ke penerima.
Ia mengungkapkan jika hal itu terjadi karena lambatnya BPJS dalam mencetak kartu dan input data. "Ya, kita sudah kirim data. Setiap data masuk, langsung kirim lewat WA," ujarnya.

Selain itu, ia juga mengatakan jika desa-desa lambat menyetorkan data nama-nama peserta Penerima Bantuan Iuran(PBI) BPJS. "Kami bahkan sering ke desa langsung tanya data nama-nama penerima BPJS, tapi tidak dapat. Kata staf di desa sudah dikirim ke kecamatan, sampai kecamatan, kami minta, ternyata tidak ada. Itu di Kecamatan Tanjungraya. Hampir semua begitu," ujarnya.

Terpisah, Staf BPJS wilayah Mesuji, Budi, membantah jika penyebab keterlambatan terbitnya kartu BPJS ada dipihaknya. Ia menjelaskan saat ini sudah mengeluarkan 15 ribu kartu bahkan sudah dikirim ke Dinsos Mesuji. Lalu sudah lakukan validasi 2000 peserta lagi.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR