BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Beberapa kejadian ujaran kebencian (hate speech) di media sosial media belakang memang kerap terjadi, dan pelakunya berasal dari Lampung.
Tercatat dari 2017-2018 terdapat empat pelaku yang memosting ujaran kebencian baik terhadap perseorangan, institusi partai, maupun kepolisian.
Berdasarkan data, Subdit II Tindak Pidana Perbankan dan Cyber Crime pernah menangkap warga Kalianda pada Kamis (1/6/2017), bernama Muhammad Ali Amin Said, karena dinilai telah menyebarkan kata-kata penghinaan dan ancaman kepada Kapolri, Jenderal Tito Karnavian.
Kemudian, pada (21/2/2018), Sandi Ferdian, warga Taman Asri, Baradatu, Way Kanan, ditangkap Bareskrim Mabes Polri.

Selanjutnya, Budi Setiawan warga Desa Canggung, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan ditangkap Subdit II Tindak Pidana Perbankan dan Cyber Crime pada (27/2/2018). Budi Sendiri diciduk aparat, lantaran memasang status Facebook yang menyatakan PDIP sama dengan PKI.
Lalu Sandi Ferdian (34), warga Taman Asri, Kecamatan Baradatu, Kabupaten Way Kanan yang menyebarkan berita hoaks soal Megawati yang meminta pemerintah meniadakan adzan di masjid.
Terakhir, Agung Nesta Wibowo warga Lampung Tengah ditangkap di kediamannya, pada Rabu malam (2/5/2018) malam. Agung ditangkap karena memposting foto berbau ujaran kebencian di sosial media Instagram, menghina Kapolri Jenderal M. Tito Karnavian.



Menanggapi hal tersebut, sosiolog Universitas Lampung Bartoven Vivit Nurdin mengatakan minimnya budaya literasi masyarakat Lampung, jadi penyebab ada saja warga yang men-share postingan hate speech di sosial media.
"Masyarakat kita lebih banyak wachting dari pada reading," ujarnya saat dikonfirmasi Lampost.co Jumat (4/5/2018).
Lemahnya pemahaman literasi tersebut, ditunjang dengan informasi yang bisa diakses Internet tanpa sekat, tanpa batas. Padahal informasi di internet di dominasi oleh hoaks, masyarakat lebih menyukai postingan media sosial dari pada membaca buku, jurnal atau hasil penelitian yang menggunakan disiplin Ilmu.
"Maka dari itu semua stakeholder harus gencar mengkampanyekan hoax di semua lini, jangan cuma sekali saja harus digerakkan secara massif dan berkala," katanya. 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR