BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Masyarakat Kelurahan Pasir Gintung, Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung mengklaim tidak ada pengrusakan terhadap aset milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan intimidasi kepada petugas BUMN itu di Jalan Duku, pada Selasa (3/7/2018) lalu. 

Sebab, kejadian itu justru diawali petugas PT KAI yang hendak membongkar kembali pagar seng yang telah terpasang di sebuah rumah sejak Oktober 2017 lalu itu. Namun, masyarakat melarang dan membuat terjadinya keributan.
Ketua Masyarakat Bersatu Kelurahan Pasir Gintung, Hariyadi, Rabu (4/7/2018), menjelaskan kejadian tersebut diawali petugas PT KAI yang hendak melakukan pengukuran dan membongkar sebagian lahan yang disengketakan di Jalan Duku, Kelurahan Pasir Gintung tersebut.



"Awalnya saya dapat pesan singkat, sekitar pukul 9.00 dari warga yang tinggal bersebelahan dengan lahan yang disengketakan. Saya langsung ke lokasi dan bertanya terkait pembongkaran itu, karena kan masih lahan sengketa," kata Hari saat mendatangi kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandar Lampung, Rabu (4/72018).
Dia melanjutkan, lahan yang masih berstatus quo itu membuatnya melarang adanya kegiatan apapun. Pihaknya berdasar pada surat DPRD Lampung No.005/1953/III.01/2017 tentang penghentian sementara sosialisasi pengukuran dan penarikan uang sewa atas tanah PT KAI.
"PT KAI akan membongkar seng pembatasnya sendiri. Disitulah ramai dan banyak warga berdatangan. Hal itu memancing kemarahan warga dan ikut serta membongkar lahan sengketa itu. Kami membantu membongkar, bukan mengrusak. Sebab, kami juga risih melihat rumah ditutup seng gitu," ujarnya.
Senada, Astri warga lainnya mengaku melihat kejadian tersebut dibalik jendela rumahnya dan pembongkaran itu dilakukan sendiri oleh PT KAI menggunakan linggis. "Linggis itu bukan punya warga, karena yang membawa linggis itu adalah satpam yang bertugas di Mes PT KAI," ujarnya.

Berita terkait: Puluhan Warga Rusak Aset dan Intimidasi Pegawai PT KAI


Sementara itu, Manager Humas Divre IV Tanjungkarang PT KAI, Franoto mengatakan awalnya pegawai PT KAI hendak mengecek kondisi rumah yang sudah disterilkan dengan pagar seng untuk melihat kondisi bangunan, karena akan digunakan untuk kepentingan PT KAI.
"Kalau mau melihat kedalam, karena dipagar seng maka dibuka satu seng
Tapi, ternyata ada oknum warga yang merasa terganggu. Makanya kami heran kok malah warganya marah-marah. Kalau surat DPRD itu memang betul, tetapi di lahan warga. Kalau ini kan di rumah kosong yang sudah kami sterilkan setahun lalu," ujarnya.
Pengukuran itu, lanjutnya, agar pihaknya mendapatkan gambaran untuk mendesain bangunan yang akan digunakan PT KAI. "Makanya kami ukur, agar kami mendapatkan gambaran jika ingin dibangun sesuatu agar kami bisa mendesainnya," tuturnya.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR