KALIANDA (Lampost.co)--Kelangkaan gas elpiji hingga membuat harga melambung sampai Rp30 ribu per tabung di pesisir timur kabupaten Lampung Selatan, ternyata banyak petani padi yang memanfaatkan elpiji bersubsidi tersebut untuk bahan bakar mesin pompa air.

Menurut Jaka, petani padi di desa Bhaktirasa kecamatan Sragi, saat ini ratusan bahkan ribuan hektare tanaman padi petani di kecamatan Sragi terancam kekeringan.  Untuk mengairi sawah yang kekeringan tersebut,  mereka menggunakan mesin pompa air untuk menyedot air dari sungai maupun embung.



“Dengan bahan bakar gas, pemakaian mesin pompa air lebih hemat dibandingkan menggunakan premium. Untuk itu kami pakai elpiji 3kg untuk BBM mesin pompa air, “ kata dia kepada lampost. co, Jumat (10/8/2018).

Untuk mengairi tanaman padi yang mulai kekeringan seluas setengah hektare, Jaka mengaku menghabiskan bahan bakar untuk mesin pompa air sekitar 15 liter bensin mullau pukul 07.00 hingga pukul 18.00 WIB. 

Sedangkan dengan menggunakan bahan bakar gas,  hanya membutuhkan satu tabung gas ukuran 3 kg seharga 30ribu/tabung.“Uangnya bisa digunakan untuk bayar sewa mesin pompa airnya, “ ujarnya. 

Hal senada diungkapkan Samingan, petani padi di desa Way Sidomukti,  kecamatan Ketapang.  Menurut dia, membutuhkan waktu tiga hari dengan mesin pompa air untuk mengairi lahan tanaman padi seluas 1,5 hektar yang ia garap bersama pamannya. 

“Jika mesin pompa air bekerja selama 3 hari menggunakan bahan bakar bensin, bisa habis dana Rp600-an ribu, namun dengan elpiji, cukup 4 tabung gas 3kg seharga Rp 120ribu,“ jelasnya. 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR