GAZA (lampost.co) -- Om Hamdan Thabet, seorang warga Palestina yang tinggal di Gaza, mengaku kesulitan menjalani Ramadan tahun ini. Ia tidak dapat menemukan bahan makanan apapun di kulkas untuk dijadikan hidangan sahur bagi anak-anak dan suaminya.

Thabet hanya menemukan sedikit rempah thyme untuk disajikan dengan secangkir teh kepada tujuh anggota keluarganya. Ia berharap thyme dapat membuat keluarganya kuat berpuasa selama 14 jam.



Untuk hidangan berbuka, Thabet mengaku akan berusaha mencari kacang-kacangan jenis lentil.

Berbicara kepada kantor berita Asharq al-Awsat, Minggu (20/5/2018), Thabet mengaku harus berjuang keras karena suaminya sudah tidak dapat bekerja lagi. Suaminya kini hanya bisa duduk di kursi roda, sementara dua anaknya juga mengalami disabilitas.

Selama ini, keluarga Thabet bisa bertahan hidup dari bantuan sejumlah asosiasi dan kepedulian warga sekitar.

Ribuan keluarga di Jalur Gaza hidup dalam kondisi yang lebih kurang sama seperti Thabet. Penderitaan mereka semakin menjadi setelah otoritas setempat berhenti memberikan bantuan kepada keluarga miskin.

Jamal Khoudary, seorang anggota parlemen Palestina dan kepala dari Popular Comittee Against Siege, memperlihatkan angka mengejutkan mengenai situasi kemanusiaan di Gaza.

Ia menyebut 80 persen warga Gaza hidup di bawah garis kemiskinan. Aliran listrik ke rumah-rumah warga juga hanya dibatasi empat jam per hari.

Tidak hanya itu, Khoudary mengatakan 95 persen air di Gaza kurang layak untuk diminum. Sekitar seperempat juta warga Gaza juga menganggur, dan ada ribuan lulusan universitas yang kesulitan mencari pekerjaan. "Kondisi ini jauh lebih buruk dari kata sulit, dan ini tidak dapat terus berlanjut," tegas Khoudary.

 

EDITOR

Ricky Marly

TAGS


KOMENTAR