SEBUAH studi menemukan bahwa wanita lebih mudah merasa jijik dibanding dengan pria pada hal-hal yang mendasar. Penelitian itu diterbitkan dalam jurnal Philosophical Transactions B milik Royal Society, juga menyebutkan penampilan atipikal, dengan kelainan bentuk wajah dan kondisi kulit, membuat partisipan merasa sangat jijik.

Peneliti menyurvei lebih dari 2.500 orang secara daring dan menanyakan tingkat kejijikan pada 75 skenario mulai “tidak jijik” sampai “jijik dalam tahap ekstrem”.



Mereka mengidentifikasi enam kategori umum jijik dan menemukan bahwa wanita bereaksi terhadap masing-masing dengan tingkat kejijikan yang lebih tinggi daripada pria. Beberapa di antaranya berkaitan dengan kebersihan yang buruk, seperti bau badan dan toilet yang tidak disiram; kontaminasi hewan; makanan yang sudah kedaluwarsa dan perilaku seksual yang berisiko.

Penulis utama Val Curtis mengungkapkan skenario tersebut memprovokasi rasa jijik karena kecenderungan leluhur untuk menghindari apa yang diyakini dapat menyebabkan infeksi. Dari enam kategori umum, luka yang menjadi nanah dianggap yang paling menjijikkan, disusul dengan kurangnya kebersihan.

Curtis menjelaskan sangat penting untuk memahami apa yang menyebabkan rasa jijik dari perspektif emosional dan kesehatan masyarakat, dengan alasan bahwa hal itu dapat mengarah pada pengurangan penyakit.

"Kita perlu memahami bagaimana kita menanggapi ancaman infeksi sehingga kita dapat membuat orang tetap sehat. Misalnya, menunjukkan kejijikan dalam pesan kesehatan masyarakat adalah salah satu strategi untuk membuat orang-orang mencuci tangan mereka."

Sedangkan untuk disparitas dalam hal gender, Curtis menjelaskan wanita bisa lebih merasa jijik karena terkait akan ancaman kesehatan pada dirinya serta anak-anaknya.

Laki-laki dapat melakukan hal serupa tetapi mereka tidak masalah untuk mengambil risiko dan tidak merasa jijik dengan hal-hal tersebut daripada pasangan mereka yang melahirkan anak.

 

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR