DELAPAN daerah di Lampung akan menggelar pemilukada serentak tahun 2020, tepatnya pada bulan September. Dari delapan daerah itu, salah satu yang akan menggelar pemilihan adalah Bandar Lampung.

Pemilihan wali kota tahun depan bisa menarik karena Herman HN tidak akan maju kembali karena sudah dua periode. Meski tidak bisa mencalonkan diri, Eva Dwiana, istri Herman, digadang-gadang sebagai kandidat kuat memimpin Kota Tapis Berseri periode 2021—2026.



Jika kita melintas jalan-jalan kota dan lingkungan, banyak poster Wakil Wali Kota Bandar Lampung Yusuf Kohar dipasang. Ketua Apindo ini juga sangat serius untuk maju sebagai kandidat wali kota. Kecil kemungkinan Eva dan Yusuf Kohar bisa berduet bersama dalam Pemilukada 2020.

Beberapa tokoh juga sudah mulai memperkenalkan diri lewat baliho di jalan-jalan protokol, termasuk dengan memasang iklan di media massa. Ada harapan muncul tokoh baru sebagai kandidat di luar Eva Diwana dan Yusuf Kohar.

Sebagai ketua Tim Penggerak PKK, Eva memiliki modal yang kuat untuk maju sebagai wali kota. Apalagi, dalam dua kali pemilihan legislatif untuk DPRD Lampung, Eva selalu meraih suara terbanyak dari daerah pemilihan ibu kota provinsi ini.

Pada Pemilukada 2015, pasangan Herman HN-M Yusuf Kohar memperoleh 358.249 suara atau 86,66%. Akankah Eva bisa mengikuti jejak sang suami dengan perolehan suara lebih dari 80%? Belum tentu, karena banyak faktor yang akan memengaruhi elektabilitas calon. Harus diakui, salah satu pendukung militan Herman dan Eva adalah kalang emak-emak.

Sebagai ibu kota provinsi, Bandar Lampung memiliki banyak permasalahan yang belum tuntas. Isu yang selalu muncul dalam setiap pemilihan adalah masalah sampah dan transportasi. Masalah sampah tidak hanya membersihkan jalan protokol dan lingkungan dari sampah dan membuangnya ke TPA Bakung. Masalah transportasi juga tidak sebatas mengurangi titik kemacetan.

Wali Kota ke depan juga harus memiliki visi kebudayaan agar Bandar Lampung bergerak menuju kota yang lebih kreatif dan dinamis. Visi ini penting mengingat kepala daerah juga harus mendorong pendidikan dan literasi di daerahnya agar semakin menggema dan berdaya saing.    

Kita berharap muncul calon-calon di luar oligarki politik yang membawa tawaran solusi dalam membangun kota untuk menjadikan Bandar Lampung kota yang sehat, berbudaya, dan kreatif. Kandidat yang berani melakukan reformasi pelayanan publik dan menghadirkan pemerintahan bersih serta berintegritas.   

Calon itu bisa dari kalangan akademisi, profesional, pengusaha, hingga birokrat. Modal finansial memang jadi kendala. Namun, jika mampu menggaet anak-anak muda dan komunitas dengan tawaran ide dan keberanian membangun kota, ada harapan untuk membuat donasi publik dalam mendukung calon wali kota yang membawa harapan. Sudah saatnya Bandar Lampung memiliki wali kota berkelas yang visioner dan kreatif, bukan sekadar membangun infrastruktur dan mengejar rekor Muri.

 

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR