Asrian Hendi Caya

(Peneliti Pusat Studi dan Informasi Pembangunan-Pusiban)



 

BEBERAPA tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Lampung memiliki tren yang positif. Selalu berada di atas nasional walau selisihnya kecil, yaitu di kisaran 5%. Namun, melihat jauh ke belakang, Lampung pernah tumbuh di atas 6%. Inilah tantangan ekonomi Lampung ke depan, yaitu memacu peningkatan ekonomi.

Mengapa kita perlu peningkatan ekonomi yang lebih tinggi? Sebab, potensi ekonomi Lampung besar sehingga sayang tidak dioptimalkan pendayagunaannya. Yang lebih penting, karena kita harus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Lampung yang masih termasuk rendah, tecermin pada tingkat kemiskinan (13,01%) yang masih di atas nasional (9,66%) dan IPM (69,02) di bawah nasional (71,39). 

Menyimak kondisi ekonomi 2018, tantangan utamanya adalah sektor pertanian. Pertanian masih merupakan penyumbang terbesar ekonomi Lampung, yaitu 30% PDRB Lampung. Pertumbuhan sektor pertanian sebesar 1,01%, merupakan yang terendah. Sedangkan 2013, sektor pertanian tumbuh diatas 4%, tapi terus turun. Sampai saat ini pertanian masih merupakan tumpuan terbesar penyerap tanaga kerja (43,30%).

Ketidak proporsionalan antara penyerapan tenaga kerja dan kontribusi terhadap PDRB mengindikasikan bahwa produktivitas dan nilai tambah sektor pertanian masih rendah. Padi misalnya, pada 2018 produktivitasnya sekitar 4,783 ton per ha. Daerah utama penghasil padi yaitu Lampung Tengah, Lampung Timur, dan Lampung Selatan justru produktivitasnya dibawah 5 ton per ha.

Memacu pertumbuhan sektor pertanian tidak sebatas produktivitas, tetapi justru nilai tambah. Berarti sudah menyangkut harga padi dan efisiensi produksi. Hasil survei ongkos BPS (2017) menunjukkan nilai produksi per panen Rp19,63 juta dan biaya Rp10,95 juta. Artinya, margin petani Rp8,68 juta per panen.

Jika dua kali panen, berarti penerimaan petani Rp17,36 juta atau setara Rp1,466 juta per bulan. Dengan asumsi per keluarga ada 4 orang, pendapatan per kapita Rp361,67 ribu. Ini setara dengan petani kopi, yang produktivitasnya 7 kuintal per tahun, dengan harga Rp25 ribu per kg, per kapita dengan anggota keluarga 4 orang Rp364,58ribu. Ini berarti di bawah garis kemiskinan (Rp409,881).

Harus diakui struktur pasar pertanian masih dikuasai pedagang, belum lagi harga pembelian pemerintah (HPP) padi sudah beberapa tahun tidak naik dari Rp3.700 per kg. Sementara ketergantungan petani pada input masih tinggi (pupuk, obat-obatan, alsintan, bibit, dan lainnya). Ini adalah gambaran sektor pertanian. Bagaimana memacu pertumbuhan sektor pertanian ke depan? Harus ada kebijakan simultan antara peningkatan produktivitas dan penetrasi pasar. Sepertinya langkah ini sudah mendapat sinyal dengan adanya program petani berjaya, dengan kartu taninya.  

Mengingat ekonomi Lampung dikuasai sektor pertanian (30%), industri pengolahan (19,44%), dan perdagangan (11,15%), ketiganya harus harmoni dalam mengelola komoditas pertanian. Sektor pertanian mewarnai sektor industri karena merupakan pengolahan komoditas pertanian, begitu juga dengan sektor perdagangan karena memperdagangkan komoditas perdagangan termasuk ekspor.

Dengan demikian, harus tumbuh budaya industri pada masyarakat yaitu dengan mengolah hasil-hasil pertanian. Transaksi tidak lagi berorientasi produk primer hasil pertanian. Padi harus diolah di desa/kecamatan agar nilai tambah padi ada di desa bahkan bisa menjadi pemicu kegiatan peternakan karena tersedia pakan (dedak). Ekonomi desa akan lebih hidup. Pengolahan karet, sawit, dan lainnya harus dikembangkan yang akan meningkatkan nilai tambah, juga menyediakan lapangan kerja.

Lampung harus menyambut dan menerapkan industri 4.0. Agroindustri harus tumbuh, apalagi mobilitas makin baik dengan dukungan transportasi yang lancar baik darat, laut, maupun udara. Potensi bahan baku yang besar merupakan daya tarik yang kuat. Tinggal lagi meyakinkan investor dengan memberikan jaminan kebijakan yang ramah investasi. Di Lampung sendiri banyak pemodal bahkan bisa reinvestasi di bidang usaha lain. Sinyal akan hal itu sudah ada melalui rintisan komunikasi yang membangun sinergi dengan pelaku usaha skala besar dalam visi Lampung Berjaya.

Ekonomi kreatif yang berbasis komoditas pertanian ditumbuhkan. Apalagi ada kearifan lokal yang berbasis budaya, seperti kuliner, kerajinan, dan lainnya. Pengemasan makin dikembangkan yang menjadi daya tarik, terutama bagi komoditas pertanian dan olahannya. Penggunaan bahan plastik sintetik harus dikurangi sehingga merupakan kesempatan bagi Lampung mengembangkan plastik organik yang berbahan baku hasil pertanian (singkong). Sekaligus menjadi nilai lebih karena mengedepankan keberlanjutan (sustainability).

Berkembangnya agroindustri dan ekonomi kreatif berbasis komoditas pertanian akan meningkatkan perdagangan Lampung, termasuk ekspor. Perdagangan karenanya harus menjadi ujung tombak yang membuka peluang pasar baik lokal maupun ekspor. Lampung bukan hanya harus pandai mengemas produk, melainkan juga harus membangun citra produk, yaitu sehat, ramah lingkungan, dan memuat unsur budaya lokal. Perdagangan harus membuka jaringan yang luas dan memanfaatkan dukungan teknologi digital. Sinyal akan hal itu sudah ada pada program smart city/village dan pengembangan budaya. 

Fokus pada komoditas pertanian mulai dari budi daya (sektor pertanian), pengolahan (sektor industri dan ekonomi kreatif), sampai distribusi (sektor perdagangan) secara harmoni juga sistematis akan menjadikan ekonomi Lampung bangkit serta berjaya. Apalagi ada upaya yang serius untuk meningkatkan dukungan ketersediaan energi, terutama listrik. Ada komitmen untuk meningkatkan keterampilan sumber daya manusia melalui berbagai pelatihan dan magang. Dan memastikan pengelolaan infrastruktur transportasi dengan baik.

Kekayaan alam dan budaya Lampung bukan hanya potensial untuk komoditas pertanian, melainkan juga pariwisata. Oleh karena itu, pariwisata harus terintegrasi dengan pengembangan kegiatan ekonomi lainnya. Kekuatan destinasi/objek wisata tecermin pada atraksi, aminitas, dan aksesibilitas. Aksesibilitas yang sudah baik (darat, laut, dan udara) harus dapat dioptimalkan dengan dukungan transportasi yang baik ke objek wisata. Dalam hal ini, provinsi dan kabupaten harus bersinergi terutama untuk destinasi unggulan.

Aminitas harus bisa dilengkapi sehingga membuat nyaman wisatawan dengan membina pengelola objek wisata dan memfasilitasinya. Dalam hal ini, terutama yang menyangkut fasilitas umum (kamar mandi dan wc) yang bersih, kuliner yang sehat, suvenir yang unik, serta fasilitas/ petugas keamanan yang memadai. Atraksi baik yang bersifat natural (alami) maupun kultural (budaya) harus tetap asli dan tertata asri.

Dalam hal ini, harus ada pembinaan sehingga atraksi bersifat komunikatif dan interaktif dengan wisatawan dengan tetap menjaga kelestariannya. Sinergi kedua fokus, yaitu komoditas pertanian dan pariwisata akan memberikan warna baru ekonomi Lampung. Bahkan akan mendinamisasi ekonomi Lampung.

Meningkatnya pertumbuhan sektor pertanian, industri, dan perdagangan serta berkembangnya pariwisata akan memiliki efek ganda (multiplier effect) bagi perekonomian Lampung. Dengan gambaran ini, adalah sangat mungkin ekonomi Lampung menuju pertumbuhan 6%. Kondisi ini tentunya akan menjamin rakyat Lampung berjaya. Ayo bersinergi bangun Lampung!

EDITOR

Bambang Pamungkas

TAGS


KOMENTAR