BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Tim khusus anti-Bandit (Tekab) 308 Polresta Bandar Lampung, melakukan penyelidikan terhadap dugaan kepemilikan senjata api ilegal oleh oknum sopir (driver) taksi Online.

Penyelidikan tersebut, dikarenakan viralnya sebuah video di akun Instagram dan plaftrom YouTube. Dalam video itu, terlihat perdebatan antara sesama sopir taksi Online, di dekat pusat perbelanjaan Transmart, hingga salah satu orang yang menggunakan baju berwarna merah, mengeluarkan senjata api.
Dari paparan video tersebut diduga salah satu dari mereka dianggap merugikan karena menggunakan aplikasi ilegal, sehingga lebih memudahkan driver dalam mencari konsumen.
Kasatreskrim Polresta Bandar Lampung, Kompol Harto Agung Cahyono, Selasa (30/1/2018), mengatakan penyelidikan dan pencarian identitas orang dalam video tersebut sudah dilakukan selama dua hari ini.
Jika terbukti benar orang tersebut membawa senpi rakitan, maupun organik yang tidak memiliki dokumen resmi, pasti akan diamankan, kata Harto. "Kita terus lidik, dan cari orang dalam video itu, kami juga sudah simpan videonya," ujarnya.
Selain itu, perlu proses yang panjang dan prosedur yang ada hingga masyarakat sipil memiliki senpi legal. Selain itu, hanya personel TNI Polri yang punya kewenangan menggunakan, maupun mengeluarkan senpi, namun juga harus sesuai dengan SOP yang ketat.
"Seandainya itu senpi bohongan atau airsoft, kita pidanakan, karena ada unsur mengancam," ungkap Harto.
Sementara Satgas Gojek Bandar Lampung, Emil Salim, telah melakukan penelusuran terhadap orang berbaju merah yang viral diduga sebagai driver Gocar membawa senpi. Menurutnya dari penulusuran diduga kuat ia bukan seorang mitra yang terdaftar secara resmi.



"Kendati saya enggak tahu nama, tapi saya lihat videonya, saya juga kan tahu semua siapa driver go-car gojek, soalnya saya yang monitor setiap hari, sementara dia bukan driver kita," ujarnya saat dikonfirmasi.
Menurut Emil, pihaknya selau memberikan sosialisasi kepada mitra gocar maupun gojek, agar tidak membawa senjata tajam, dan api, membuat kerusuhan, hingga melakukan tindak pidana, Sanski pencabutan (suspend) pasti dilakukan jika terindikasi.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR