DALAM dunia kedokteran, untuk mengobati suatu penyakit, kadang dibutuhkan obat yang tidak biasa atau tidak lazim bagi kebanyakan orang. Dahulu kala, sebelum ditemukan ilmu kedokteran modern, dalam pengobatan tradisional, para tabib menggunakan ramuan-ramuan yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan, hewan, bahkan darah ular sebagai obat. Padahal, darah secara agama jelas hukumnya haram untuk dikonsumsi.

Dalam dunia kedokteran modern pun saat ini masih menggunakan pengobatan dengan menggunakan darah, misalnya transfusi darah, transplantasi ginjal, transplantasi sumsum tulang, dan transplantasi jantung.



Akan tetapi, dalam dunia kedokteran, suatu hal yang bersifat darurat syar’iyyah (keterpaksaan) diperbolehkan atau mubah. Kita wajib menjaga kesehatan diri dan wajib berobat jika sedang dalam keadaan sakit.

Secara hukum agama pun, Surah Al-Baqarah ayat 173 menerangkan perihal tersebut: “Sesungguhnya, Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi, barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

MUI Memperbolehkan

Menyikapi fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 33 Tahun 2018 yang dikeluarkan pada tanggal 20 Agustus 2018, pada butir ketiga menyatakan bahwa penggunaan vaksin measles rubella (MR) produk dari Serum Institute of India (SII) pada saat ini dibolehkan (mubah) karena (a) ada kondisi keterpaksaan (darurat syar’iyyah), (b) belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci, (c) ada keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi.

Dengan demikian, penulis berkesimpulan bahwa fatwa MUI itu memperbolehkan imunisasi MR diberikan pada anak sesuai program imunisasi dari pemerintah. Apalagi, sudah didukung dengan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 440/6080/SJ dan 440/608/SJ tanggal 20 Agustus 2018 kepada gubernur dan wali kota perihal dukungan Kementerian Dalam Negeri pada pelaksanaan imunisasi MR. Jadi, kampanye imunisasi MR harus dilaksanakan dan didukung agar sukses mencapai target di atas 95%

Pentingnya Vaksinasi

Data di Indonesia menunjukkan syndrome rubella kongenital (SRK) tahun 2013 terdapat 2.767 kasus serta diperkirakan 82/100.000 terjadi pada ibu usia 15—19 tahun dan 47/100.000 terjadi pada ibu usia 40—44 tahun. Angka ini akan semakin meningkat jika tidak dilakukan eliminasi campak dan rubella.

Berdasarkan hasil survei dan cakupan imunisasi, imunisasi campak rutin saja belum cukup untuk mencapai target eliminsasi campak. Sementara itu, untuk akselerasi pengendalian rubella, perlu dilakukan kampanye imunisasi tambahan sebelum introduksi vaksin MR ke dalam imunisasi rutin.

Untuk itu, diperlukan kampanye imunisasi MR pada anak usia 9 bulan sampai usia kurang dari 15 tahun. Cakupan imunisasi di bawah 60% sangat berbahaya. Ini dapat menyebabkan penyakit campak dan rubella merajalela. Kondisi inilah yang dikatakan darurat.

Berdasarkan data yang ada saat ini, cakupan imunisasi masih 55%. Cakupan imunisasi di atas 95% akan menurunkan secara signifikan kasus campak dan rubella mendekati nol. Rendahnya cakupan imunisasi akan menyebabkan program imunisasi MR yang sudah dijalankan menjadi sia-sia dan program eliminasi campak dan rubella di Indonesia gagal total.

Bayi-bayi yang terlahir dari ibu yang menderita penyakit rubella atau yang dikenal dengan syndrome rubella kongenital (SRK) mempunyai kelainan bawaan seperti ketulian saraf permanen, gangguan penglihatan seperti katarak bawaan, keterlambatan perkembangan, gangguan intelektual berat, autisme, diabetes mellitus, dan gangguan fungsi kelenjar tiroid.

Bentuk yang paling sering ditemui di klinik adalah katarak kongenital dan tuli saraf berat, yang dalam pengobatannya membutuhkan biaya sampai ratusan juta rupiah.

Belajar dari Sejarah

Tahun 2003, Majelis Ulama Nigeria mengeluarkan fatwa vaksinasi polio haram, lalu program vaksinasi polio disetop selama setahun. Akibatnya, pada tahun 2004—2005 timbul wabah polio di 20 negara Asia-Afrika dan menyebabkan kelumpuhan pada 5.000-an anak, termasuk sekitar 300 anak lumpuh di Indonesia.

Ternyata, virus polio dari Nigeria bisa menyebar ke Indonesia karena arus transportasi yang amat mudah saat ini. Belajar dari sejarah, penyebaran penyakit merupakan tanggung jawab kita semua.

Akhir kata, dalam kesempatan ini penulis berharap agar masyarakat paham dan mengerti tujuan kampanye imunisasi MR bagi kesehatan masyarakat. Semoga Allah SWT meridai upaya kita dalam kebaikan bagi masyarakat dan mencegah bahaya/kemudaratan yang jauh lebih besar akibat tersebarnya penyakit berbahaya yang bisa dicegah dengan imunisasi.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR