LEBARAN menjadi hari yang paling dinanti umat muslim. Sejak awal Ramadan, sudah banyak persiapan menyambut Lebaran, mulai dari aneka kue, baju baru, hingga furnitur baru. Meskipun tak semua perangkat itu harus baru menyambut Lebaran, banyak dari kita beranggapan wajar, apalagi dapat bonus khusus tunjangan hari raya bagi para pekerja. So, belanja kudu wajib!

Tak heran jika pola ini disambut pebisnis untuk menawarkan produknya. Sejak awal Ramadan, aneka promosi sudah digelontorkan melalui diskon besar. Nah, minggu pertama Ramadan saya sempat berbelanja kebutuhan dapur di salah satu pusat perbelanjaan yang sedang diskon. Maklum, kalkulator emak-emak harus tetap berjalan agar chasflow tetap aman.



Di depan pintu masuk swalayan, ternyata sedang ada bazar dengan diskon menggoda. Saya pun tergoda dan ikut berdesakan. Wow, sungguh menggoda! “Beli 1, Gratis 3” tulisannya. "Ini beneran, Mbak, beli satu dapatnya jadi empat, ya?" tanya saya kepada SPG.

Dijawabnya, “Iya, bisa memilih, tetapi harga yang paling tinggi yang dijadikan patokan untuk bayar di kasir,” katanya.

“Wah, lumayan, nih,” pikir saya. Saya pilih dulu bajunya, baru lihat barcode harga. Wow, harganya di atas Rp400 ribu untuk sebuah kemeja! Saya cari lagi malah nemu harga Rp559 ribu.

Kalkulator bekerja. Kalau beli baju dengan harga yang paling minim Rp450 ribu dapat empat, per satuannya dikenakan harga Rp112.500. Ya, lumayanlah. Tiba-tiba, asisten saya berkata, “Coba lihat dulu, itu harga sudah di-mark-up, belum? Bukannya harga baju seperti itu pasaran normalnya cuma Rp80-an ribu. Di mana promosinya?” katanya.

Hem..., benar juga, ya. Saya batal memilih. Kalau mau beli pun, cukup satu atau dua saja. Saya pun melanjutkan belanja kebutuhan dapur.

Hingga sepekan menjelang Lebaran, ternyata saya belum juga beli baju baru. Maklum, sengaja nunggu THR cair dulu baru belanja. Ternyata, di setiap pusat perbelanjaan penuh sesak pengunjung. Makin hari, Lebaran makin dekat. Saya mulai panik. Okelah saya tak pakai baju baru tak apa, tapi buah hati setidaknya harus ada baju baru.

Saat panik, asisten saya kembali berkata, “Coba bongkar lemari, bukankah masih banyak baju baru yang dibeli via online yang belum dipakai.”

Benar, ketika saya bongkar-bongkar lemari, ternyata ada beberapa helai baju buat si kecil juga buat saya yang masih dalam plastik kemasan dan masih bau toko.

Alhamdulillah, selamat deh dari desak-desakan di pusat perbelanjaan. Terima kasih, asistenku! Mau tau siapa asisten saya? Dia adalah kata hati yang menuntun saya untuk lebih rasional menimbang antara kebutuhan dan keinginan.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR