SAYA ikut tersentak setelah membaca pemberitaan Lampung Post edisi Selasa, 24 April 2018. Dalam berita itu tertulis judul UNBK SMP Molor 75 Menit. Kejadian yang sama juga menimpa madrasah saya yang tahun ini ikut pula menerapkan UNBK. Seperti kita ketahui, ujian nasional berbasis komputer (UNBK) atau disebut juga computer based test (CBT) adalah sistem pelaksanaan ujian nasional yang menggunakan komputer sebagai media ujiannya. Dalam pelaksanaannya, UNBK berbeda dengan sistem ujian nasional berbasis kertas dan pensil yang selama ini berjalan.

Penyelenggaraan UNBK pertama kali dilaksanakan pada 2014 secara online dan terbatas di SMP Indonesia Singapura dan SMP Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Hasil penyelenggaraan UNBK pada kedua sekolah tersebut ternyata cukup menggembirakan dan semakin mendorong untuk meningkatkan literasi siswa terhadap teknologi informasi dan komunikasi (TIK).



Selanjutnya, secara bertahap pada 2015 dilaksanakanlah rintisan UNBK dengan mengikutsertakan sebanyak 556 sekolah yang terdiri dari 42 SMP/MTs, 135 SMA/MA, dan 379 SMK di 29 provinsi dan luar negeri. Pada 2016, UNBK juga dilaksanakan dengan mengikutsertakan sebanyak 4.382 sekolah yang terdiri dari 984 SMP/MTs, 1.298 SMA/MA, dan 2.100 SMK.

Jumlah sekolah yang mengikuti UNBK tahun 2017 melonjak tajam menjadi 30.577 sekolah yang terdiri dari 11.096 SMP/MTs, 9.652 SMA/MA, dan 9.829 SMK. Data terbaru, pada tahun ini tercatat ada 59.467 sekolah yang mengikuti UNBK dengan perincian lebih lengkap: 18.207 SMP, 10.413 MTs, 11.346 SMA, 7.002 MA, dan 12.499 SMK.

Ujian Kekinian

Penyelenggaraan UNBK saat ini menggunakan sistem semi-online yaitu soal dikirim dari server pusat secara online melalui jaringan (sinkronisasi) ke server lokal (sekolah). Kemudian, ujian siswa dilayani oleh server lokal (sekolah) secara offline. Selanjutnya, hasil ujian itu dikirim kembali dari server lokal (sekolah) ke server pusat secara online (upload).

Sebagai orang yang berkecimpung di dunia pendidikan, saya tidak akan dapat menolak kebijakan yang sudah dipertimbangkan dengan matang oleh Kemendikbud itu. Memang diakui UNBK adalah ujian kekinian, ujian yang mampu menjawab tantangan zaman yang semakin hari semakin serbapesat perkembangannya, termasuk dalam bidang TIK.

Kita tidak menampik kenyataan, mau tidak mau, komputer adalah media wajib yang mesti kita kuasai penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Sesuai kemajuan zaman itulah, segala hal dan kepentingan yang berkait dengan pelayanan publik menuntut serba-online, tak terkecuali dalam dunia praktis pendidikan.     

Meskipun demikian, jika dilihat dari salah satu sudut, UNBK tetaplah kebijakan yang terkesan dipaksakan karena belum semua sekolah di Indonesia mampu dan siap menerapkannya. Tidak muluk-muluk, keterbatasan sarana-prasarana menempati alasan terkuat. Namun, tak apalah, toh dengan sedikit paksaan, sekolah-sekolah berusaha memenuhi itu dengan saling pinjam laptop atau harus mengupayakan pengadaannya secara mandiri.

Baiklah! Jika itu keharusan, setiap sekolah tak akan mampu berkelit guna menolaknya. Anggap saja, dunia pendidikan turut ambil bagian pada gerakan paperless society yang telah lama dicanangkan Frederick Wilfrid Lancaster sejak 1978 lalu. Dengan UNBK, penggunaan kertas akan terkurangi signifikan. Bayangkan, berapa banyak pengurangan kebutuhan kertas untuk pengadaan paket-paket soal dan lembar jawaban ujian yang serentak secara nasional itu? Dengan UNBK, semua akan terkemas secara praktis dan ekonomis di benak-benak kita.

Kendala UNBK

Akan tetapi, kenyataan di lapangan bisa saja jauh panggang dari api. Kenapa begitu? Berdasarkan pemantauan penulis, selalu ada saja kendala-kendala yang berpeluang besar menghambat pelaksanaannya. Kendala inilah yang akhirnya menjadi bumerang bagi sekolah-sekolah penyelenggara. Alih-alih kepraktisan yang diharap, keruwetan yang didapat.

Saat kita duduk di bangku sekolah, ujian dianggap sebagai sebuah proses yang sangat sakral. Menurut, KBBI, sakral berarti suci atau keramat. Saking suci dan keramatnya, kita mesti menyiapkannya dengan matang dalam menghadapinya, termasuk urusan mental. Coba bandingkan dengan ujian sekarang! Anak-anak era millennial ini terkesan santai dan tidak punya beban.

Ujian adalah hal biasa, setengahnya mirip main-main. Meski basisnya komputer, mereka terlihat enjoy saja menghadapinya. Pengalaman beberapa kali mengikuti simulasi ujian membuat mereka sudah terampil mengoperasikan perangkat komputer atau laptop. Kalau masalah penguasaan materi, entah prioritas ke berapa, yang penting ujiannya keren, berbasis komputer.

Nah, dalam pelaksanaan UNBK di sekolah saya sendiri, hari pertama geger! Mendadak listrik dari PLN padam. Para proktor, teknisi, dan pengawas panik. Padahal, sebelumnya, sebagai antisipasi, kepala madrasah sudah mengirimkan surat permohonan untuk penundaan pemadaman listrik. Akhirnya, semua sibuk menyalakan genset. Anak-anak pun ikut riuh.

Usai urusan listrik, rupanya server ikut bermasalah. Dampak pemadaman tadi, entah benar entah salah, sempat dijadikan kambing hitam sebagai penyebab putusnya koneksi jaringan hingga membuat proktor susah login ke aplikasi. Padahal, yang sesungguhnya, hal itu merupakan kesalahan dari server pusat. Wajar saja, ini adalah ujian skala nasional, jadi berbenturan dengan pengguna yang lain.

Akibatnya, proktor sibuk, telepon sana-sini, antarsesama proktor dan teknisi UNBK dari berbagai sekolah. Anak-anak semakin gaduh saja. Alhasil, setelah satu jam berlalu, peserta ujian baru berhasil login dan mulai bisa mengerjakan soal.

Suasana kembali ramai, setelah pengawas menyampaikan pemberitahuan kepada peserta bahwa waktu ujian berdasarkan jadwal sesi uji hampir habis. Peserta ujian, lagi-lagi, tampak mulai riuh dan mendadak kalut dengan pekerjaannya masing-masing. Namun, begitu proktor memberikan informasi dari pihak koordinator penyelenggara di provinsi bahwa waktu pengerjaan soal berdasarkan waktu yang tertera di monitor siswa, peserta ujian mulai bernapas lega.

Tak lama kemudian, beberapa peserta ujian telah selesai menjawab semua soal. Mereka tampak mulai bosan menunggu waktu ujian berakhir. Pengawas hanya bisa menyarankan agar melakukan pengecekan ulang. Namun, saran itu hanya berlaku sebentar karena banyak peserta ujian yang sudah merasa yakin dengan hasil pekerjaannya. Selanjutnya, mereka kembali asyik sendiri sembari menunggu waktu ujian habis.

Semestinya, inilah hal-hal yang mesti jadi evaluasi bagi semua pihak. Kita menginginkan UNBK dapat berjalan dengan lancar. Kesalahan teknis UNBK sedikit demi sedikit harus bisa diatasi untuk peningkatan kualitas pelaksanaannya setiap tahun.

Selain itu, penulis berharap agar hasil berupa nilai yang didapat peserta ujian ini bisa seimbang dengan usaha mereka. Siapa yang serius, semoga mendapat nilai yang membanggakan. Begitu sebaliknya, peserta yang main-main dalam ujian, jangan kecewa jika nilai yang didapat pun sebatas hanya nilai mainan belaka. Man jadda wajada! Adil, kan?

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR