KEBIJAKAN di dunia pendidikan di negara kita ini sering ruwet dan cucuk-cabut. Misalnya saja soal pelaksanaan ujian nasional (UN) bagi pelajar kelas akhir di tiap-tiap tingkatan sekolah.

Beberapa tahun lalu, sempat ada wacana dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu untuk memoratorium atau penghentian sementara pelaksanaan UN. Tapi, kemudian kebijakan itu batal dilaksanakan.



Ganti menteri, ganti pula aturan mainnya. Seperti kemudian muncul kebijakan hasil UN tidak menentukan kelulusan siswa. Yang menjadi penentu kelulusan adalah ujian sekolah berstandar nasional (USBN). Orang awam pun banyak yang tidak paham apa perbedaan UN dan USBN, ada lagi ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Istilah-istilahnya saja sudah ribet.

Kebijakan UN tidak menentukan kelulusan memengaruhi bisnis bimbingan belajar yang dulu ramai diserbu siswa kelas akhir untuk mempersiapkan UN. Tapi, sejak UN tidak lagi menjadi penentu kelulusan, lembaga-lembaga bimbingan belajar pun sepi peminat. Para orang tua dan siswa cukup santai menghadapi UN yang sebelumnya selalu menjadi momok.

Meski tidak lagi menjadi penentu kelulusan, nyatanya pelaksanaan UN tahun ini menuai keluhan para siswa karena dianggap terlalu sulit. Sulitnya materi ujian ini pun sempat menjadi viral di dunia maya, karena membanjirnya curhatan para siswa SMA yang melaksanakan UN awal bulan ini.

Komentar-komentar kocak para siswa SMA mengenai soal UN yang sukar memenuhi kolom komentar posting-an dari akun Instagram Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan @kemdikbudri dan @pustektekkom_kemdikbud. Membaca komentar-komentar itu menjadi hiburan sendiri karena bisa membuat pembacanya ketawa ngakak. Ibarat bahagia di atas penderitaan para peserta UN.

Misalnya saja komentar pemilik akun @fchr009 yang menuliskan, “Pak, penyelenggaraan UNBK menyediakan asuransi kejiwaan gak pak?

Lalu komentar dari akun @emilfhanif, “Pak, tadi saya ke sekolah niatnya mau ngerjain soal mtk, kok malah jadi soal mtk yang ngerjain saya?

Komentar lainnya, "Alhamdulillah, saya bisa mengerjakan 1 dari 40 nomor," tulis akun @adinugraha.

Para siswa juga mengeluhkan soal bukan dari materi yang mereka dapatkan di sekolah. Padahal, tujuan UN menguji hasil belajar mereka selama tiga tahun di sekolah menengah.

Miris lagi, menurut Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Bambang Suryadi, soal yang sulit justru untuk menguji dan mendorong siswa untuk berpikir dengan nalar atau kemampuan tinggi. Pasalnya, selama ini siswa negara kita tertinggal ketimbang negara lain (BBC Indonesia, 17 April 2018).

Hoho, kalau mau disamakan standarnya dengan siswa luar negeri, seharusnya negara kita benahi dulu kurikulum pendidikan mengikuti standar internasional, termasuk juga pemerataan fasilitas pendidikan. Sementara di Bumi Pertiwi ini, pendidikan yang diperoleh siswa di perkotaan dan perdesaan saja tidak sama.

Belum lagi, bantuan-bantuan pendidikan yang dikorupsi oknum tidak bertanggung jawab. Bagaimana mungkin siswa yang mendapat pendidikan seadanya harus bersaing dengan siswa di luar negeri. Inilah PR pemerintah untuk memajukan pendidikan di negeri ini untuk menciptakan sumber daya manusia berdaya saing di kancah internasional. n

EDITOR

Abdul Gofur

TAGS


KOMENTAR