PADA kesempatan lain, keberadaan Irawan juga ditemukan. Controller Belanda bernama JH Hissink yang bertugas di Tulangbawang sebagai binnenlandsch bestuur (administrasi internal kolonial) amtenar pada sekitar pergantian abad, memberikan gambaran tentang penaikan papadon yang berbeda berdasarkan adat orang Abung di Mego Pak.

Kemudian, orang yang naik papadon memiliki kewajiban, mula-mula membayar biaya dasar sebesar 600 hingga 2.400 fl kepada penyimbang terkait. Lalu, masih ada biaya lain untuk pengumuman upacara resmi di rumah sesat. Biaya ini lebih kecil, yaitu 24—60 fl, bergantung pada tingkat papadon-nya.



Pengeluaran besar untuk pesta rakyat menandakan beban utama untuk calon papadon, dengan 12—30 kerbau harus disediakan di luar hidangan besar, berjalan berkeliling menurut tingkat papadon-nya. Biaya yang disebut terakhir harus dibayarkan yang akan dibagikan ke semua penyimbang. Biaya ini dibayar dengan uang dan di papadon marga sebesar 60 fl, di papadon tiyuh setengah dari 28 dan di papadon suku setengah dari 24 fl. Nilai uang ini dapat diganti dengan hantaran barang yang besarnya ditentukan.

Hissink masih mendapatkan keterangan bahwa di sini sebenarnya uang pengganti tersebut untuk tawanan atau budak yang terbunuh. Lebih dari 50 tahun kemudian, Funke sendiri tidak bisa memperoleh informasi mengenai hal tersebut, baik dari penduduk suku Mego Pak maupun penduduk Abung lainnya. Sehingga laporan dari Hissink benar-benar dapat dipercaya. Dia bahkan mampu menunjukkan daftar distribusi atas uang Irawan dengan jelas pada semua tingkat papadon.

Peristiwa ini sangat penting untuk penelitian sejarah budaya. Hingga kini, hubungan erat di antara penempatan batu megalitik, pesta rakyat, dan pengurbanan kerbau menjadi jelas. Funke menemukan tradisi lama yang telah punah, tetapi terbukti jelas ada pada beberapa dekade yang lalu. Adat ini menunjukkan bahwa dulu kurban manusia merupakan hal biasa dilakukan masyarakat tani di Asia Tenggara sebagai kurban darah paling efektif.

Funke mendapatkan peristiwa menarik lainnya atas sumber sangat objektif mengenai setiap kesangsian, yaitu Topographische opneming van Zuid Sumatera. Di sana, ditemukan informasi tentang kemunculan Desa Muntjakabau di setiap paragraf yang berhubungan dengan wilayah Way Komering tengah.

Lokasi nama ini kini masih berada sekitar 40 km ke hilir Martapura di tepi kiri sungai Way Komering tengah. Permukiman yang bernama sama itu dipandang sebagai pendahulu dari yang baru saja dijelaskan, berada di barat daya sekitar wilayah Martapura sekarang. Di sana, dasar Way Pisang melewati rute sepanjang aliran Way Komering besar secara paralel. Lokasi ini tidak lagi dapat ditemukan.

Daerah asal penduduk Muntjakabau Blambangan di Way Umpu menunjukkan bahwa di sini adalah koloni orang Abung dari kelompok suku barat laut Buwei Lima. Oleh karena itu, adat ini sangatlah penting.

Kampung Muntjakabau berasal dari sebuah tempat dengan nama Mumbang. Dahulu, memang tradisi, terutama daerah Mumbang, sering mendapat serangan dari orang Abung Selatan di Kotabumi. Namun, mereka berhasil menahan serangan Kotabumi. Akhirnya, Abung Selatan menang melalui penipuan. Mereka melempar perhiasan emas ke dalam dinding berduri desa yang dikalahkan.

Pada suatu malam, seorang wanita dari Mumbang memotong jalan melalui duri-duri hingga ia berhasil mendekati perhiasan emas tersebut. Di jalan ini para musuh berhasil masuk ke wilayah permukiman. Mumbang dihancurkan dan wanita itu diculik. Namun, ia dalam kondisi mengandung yang kemudian melahirkan di tahanan Kotabumi. Wanita itu lalu melarikan diri dengan putranya, Pangeran Depatih, dan berhasil kembali ke kampung halamannya di Mumbang yang telah dibangun kembali.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR