SAAT tiba di gardu ronda, Samin bersungut-sungut di depan Hasan, sahabat kentalnya. “Galau saya, San!”

“Kenapa, Min?” jawab Hasan kepo sambil mengaduk teh hangat.



“Sehabis isya tadi, ada lelaki lewat depan rumahku menjajakan pot kembang,” kata Samin memulai cerita.

“Wah, kasihan amat, Min! Sudah malam masih keliling jaja pot!” ucap Hasan.

“Saya juga awalnya kasihan, San!”

“Lha, terus?” timpal Hasan.

“Karena iba, saya beli pot dagangannya. Tuh, saya tarok depan rumah!” lanjut Samin.

“Syukurlah, teman saya ini masih punya jiwa empati. Walaupun kita enggak begitu membutuhkan barang itu, jika ada yang dagang sampai larut malam begini, kalau ada rezeki, beli saja, Min! Saya setuju kok!” timpal Hasan.

“Tapi kok kamu malah lesu begini? Duitmu habis, ya?” canda Hasan.

“Jadi begini, Min. Setelah beli itu pot, saya ke pergi ke konter di ujung gang beli pulsa. Di samping konter itu, saya ketemu lagi sama si abang tukang pot. Dia lagi ngambil pot-pot untuk dipikul kembali keliling kampung. Ternyata, potnya didrop pakai mobil di depan gang, bukan dia bawa seharian jalan kaki!” cerita Samin sambil kesal.

“Saya kan merasa tertipu. Saya kira dia pikul seharian enggak laku-laku. Makanya saya beli karena kasihan. Eh, tahunya dia keliling lagi ‘nyari mangsa’ orang-orang yang kasihan!” tambah Samin.

“Hahaha...,” Hasan tertawa.

“Kok malah ketawa sih, San?”

“Ikhlas, Min!” saran Hasan menenangkan.

“Lagian, si tukang pot enggak bilang kan keliling dari pagi? Kamu saja yang mikirnya begitu,” kata Hasan. “Dia cuma memanfaatkan persepsi kamu yang ‘wah’ itu, hehe.”

“Iya sih, San. Harusnya saya ikhlas. Walaupun cuma lima puluh ribu, berat banget kalau caranya begini, San!” kata Samin.

“Nih, minum dulu, biar enakan!” kata Hasan sambil menyodorkan cangkir kaleng berisi teh hangat.

“Walaupun begitu, kamu jangan kapok untuk berbuat baik! Kamu jangan trauma, Min! Niatmu sudah dicatat dengan baik. Jangan dikotori dengan rasa penyesalan!” ucap Hasan mengademkan.

“Mereka kan jual-beli, berdagang, bukan maling apalagi korupsi. Dibilang nipu juga, ya cuma Allah yang tahu lah, Min!”

“Itu kan teknik berdagang mereka yang memanfaatkan psikologi pembeli. Di mal juga begitu. Harga di-mark-up, lalu didiskon. Alhasil, harganya tetap normal. Tapi, karena ada embel-embel diskon, pembeli membeludak,” urai Hasan.

“Cerdas juga kamu, San,” puji Samin.

“Ya sudah, ikhlasin! Mereka juga cari nafkah, Min. Ridain, biar rezekinya halal dan berkah,” ucap Hasan.

Bener, San! Astagfirullah...”

 

 

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR