KALIANDA (Lampost.co) -- "Tsunami renggut mata pencaharianku" begitu ucapan yang dilontarkan Joko saat disambangi Lampung Post di Desa Sukaraja, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Senin (25/2/2019).

Dengan kepala tertunduk, pria kelahiran 1966 itu kini belum bisa melakukan aktivitas mencari nafkah di laut. Betapa tidak, perahu kesayangannya rusak setelah diterjang tsunami beberapa bulan yang lalu.



Joko mengaku selama ini kesehariannya hanya mengandalkan menjadi seorang nelayan untuk menghidupi lima orang anak dan istrinya. Tapi, setelah gelombang tsunami itu, ia kini menjadi buruh serabutan. "Saya gak bisa melaut lagi, mas. Sebab,  sekarang peralatan dan perahu sudah tidak ada lagi. Kini perahu saya sudah menjadi puing. Jelas mata pencaharian saya hilang. Sekarang saya hanya menafkahi keluarga kuli serabutan," kata pria yang kini berusia 53 tahun itu.

Menurut suami dari Jumiatun itu hingga saat ini dirinya belum pernah tersentuh bantuan dari pihak manapun. Bahkan, terkadang dirinya merasa iri dengan nelayan desa lainnya yang pernah mendapat bantuan dari beberapa donatur. "Belum ada bantuan untuk nelayan, kalau mendengar cerita di desa lain memang pernah ada beberapa bantuan, tapi kami di sini hanya mendapatkan pendataan saja. Bantuan logistikbanyak yang terfokus untuk para korban tsunami yang rumahnya hancur saja. Sementara untuk nelayan hanya menjadi penonton," katanya.

Joko berharap kepada pemerintah agar memperhatikan nasib nelayan yang kini sudah kehilangan mata pencaharian. Sebab, banyak kapal nelayan yang rusak setelah dihantam tsunami. "Saya berharap sekali pada pemerintah untuk memperhatikan pera nelayan. Kalau nanti ada bantuan perahu dari mungkin saya kembali menjadi nelayan lagi untuk menghidupi keluarga," ujarnya.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR