KALIANDA (Lampost.co)--Cepat keluar, Nak! Ada ombak besar datang! Begitu kata Mulyono, salah satu korban tsunami asal Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, menceritakan saat gelombang tsunami datang menyapu istana rumahnya pada Sabtu (22/12/2018). 

Sebelum lampost.co menghampirinya, Mulyono terlihat termenung di depan ruangan instalasi radiologi RSUD Bob Bazar Kalianda, Jumat (4/1/2019). Luka dan duka yang dialaminya sangat sulit hilang di benak bapak enam anak itu.



Pria berpostur tubuh tinggi itu merupakan korban selamat setelah disapu tsunami. Ia berhasil ditemukan oleh masyarakat di atas puing-puing bangunan rumah miliknya yang kini rata dengan tanah. Meskipun demikian, ia bersama istrinya, Misriani (45), mengalami luka cukup parah.

Bagi pria berumur 48 tahun itu, bencana tsunami masih membekas duka yang amat mendalam. Betapa tidak, kedua anaknya yakni putra bungsunya, Rizki Saputra (2), dan anak kedua, Nova Fitriani (14), harus pergi meninggalkan mereka selama-lamanya. Bahkan, kedua orang tuanya, Mukiem (70) dan Wak Rohim (72), juga meninggal di antara puing-puing material rumah. 

"Hanya saya, istri, dan anak saya, Ridho Saputra (4), yang selamat, meski luka-luka. Saya alami patah tulang tangan bagian kanan dan luka robek di kaki. Istri alami patah tulang kaki bagian kiri, sedangkan anak saya Ridho hanya luka-luka," kata dia. 

Saat tsunami datang, kata Mulyono, ia bersama istrinya sedang sibuk menutup warung miliknya, sedangkan anggota keluarganya berada di dalam rumah. Sekitar pukul 21.30, gelombang pertama langsung menerjangnya dengan ketinggian sekitar 4—5 meter dari bibir pantai. 

Kemudian, ia pun berlari masuk ke rumah untuk memanggil keluarganya untuk segera meningalkan rumah. Namun, secara tiba-tiba hitungan detik gelombang kedua kembali datang dengan ketinggian mencapai 12 meter. 

"Nah, pada gelombang kedua itu kami semua digulung ombak bersama puing-puing material rumah. Dan akhirnya saya keluar dari permukaan gelombang dan melihat anak saya Ridho di atas puing-puing. Tidak lama kemudian saya terbentur dengan benda keras hingga tidak sadarkan diri. Dan sadar setelah di rumah sakit," kata dia.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR