SYAHDAN, pada zaman Yunani kuno tersebutlah sebuah kisah peperangan mahadahsyat antara bangsa Yunani dan Troya. Peperangan ini terjadi hampir satu dekade lamanya dan telah memakan demikian banyak korban dari kedua belah pihak.

Peperangan kedua bangsa itu bermula dari kisah asmara Pangeran Paris dari Troya kepada Helene, istri dari Menelaos, Raja Sparta. Lantaran telah mabuk kepayang, Paris pun menculik Helene. Maka, perang pun tak terhindarkan.



Nyatanya, murka Menelaos, Raja Sparta, tak mudah terobati. Bangsa Troya amat sulit untuk ditaklukan dalam sekejap. Armada laut pasukan Sparta yang masyhur tak dapat melumpuhkan Troya. Terlebih, mereka memiliki benteng yang kuat lagi kokoh.

Adalah Odysseus, sang cerdik pandai dari Yunani, mencoba memecah kebuntuan. Ia mengusulkan seluruh pasukan Sparta bersembunyi di balik pulau. Ia pun meminta Raja Menelaos membuatkanya patung kuda kayu raksasa berongga di dalamnya.

Lantas Odysseus meminta beberapa prajurit masuk ke dalam kuda raksasa itu. Kemudian sang ahli siasat itu menyebarkan narasi bahwa Sparta telah patah arang untuk berperang dan memberikan patung kuda raksasa sebagai hadiah perdamaian.

Tanpa ragu sedikit pun, bangsa Troya menelan bulat bulat narasi Odysseus. Mereka membawa patung kuda raksasa ke tengah-tengah kota. Tak lupa mereka pun berpesta pora merayakan peperangan panjang nan melelahkan yang telah berakhir.

Setelah warga kota Troya lelah berpesta dan terlelap, pasukan Sparta ke luar dari patung kuda raksasa. Mereka mengendap-endap, membuka gerbang benteng Troya. Pasukan Sparta pun menerjang kota yang terlelap bak banjir bandang.

Kota Troya akhirnya terhapus dari peta bumi hanya dalam semalam. Semua itu berkat strategi “Kuda Troya” racikan Odysseus. Ide cemerlang Odysseus berhasil melancarkan strategi penyusupan dan menghancurkan musuh dari dalam.

Strategi itu belakangan disebut Ketua Jaringan dan Kampanye Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia Arip Yogjawan (BBC.com) yang menuding legislator senayan tengah memainkan strategi memasukkan Kuda Troya ke Gedung Merah Putih.

Benarkah tudingan Arip Yogjawan dan pegiat antikorupsi lainnya? Waktu jua yang akan menjawab, apakah KPK berakhir serupa Kota Troya atau tetap tegak berdiri dan tetap beringas memberantas korupsi di negeri ini. Wallahualam bissawab. n

 

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

TAGS


KOMENTAR