TABUHAN gendang Karo dan alunan nada keyboardist mengiringi beberapa orang menari tortor. Hentak kaki, gerak tubuh, dan gemulai tangan penari seirama dengan ketukan gendang. Senyum menghiasi wajah penari yang berlatar lagu Karo berjudul Habis Tempat, Ertutur, Biring Manggis, dan Kacang Koro.

Penari perempuan berkebaya, sedangkan yang laki-laki berkemeja. Kain ulos disandang di bahu kanan.



"Ini adalah tarian khas Sumatera Utara yang ditampilkan saat pesta hingga kegiatan sosial. Seperti saat ini, untuk penggalangan dana bagi korban Sinabung," kata ketua panitia penggalangan dana korban Sinabung, Junaidi Ginting, di gedung Cio-Cio Bandar Lampung, baru-baru ini.

Kegiatan yang dihelat oleh Perkumpulan Marga Ginting itu merupakan wujud solidaritas dengan warga yang terdampak abu Gunung Sinabung. Pada tempo tertentu, keduanya menari sambil menekuk kaki hingga berjongkok.

Tortor yang berlangsung sekitar 15 menit untuk masing-masing lagu. Suasana semarak berkat harmonisasi sarune, penggual, gendang, penganak, serta keyboardist. "Alat musik tersebut bagian tidak terpisahkan dari tortor," ujar Junaidi.

Menurut dia, tortor juga kerap dimanfaatkan sebagai ajang perkenalan muda-mudi. Adapun pada acara adat, tortor untuk menghormati satu sama lain. "Ada kebanggaan yang dirasakan saat menari tortor."

Menurut Junaidi, tarian itu merupakan penyemangat jiwa yang mengandung unsur hiburan. Di masa kini, tortor mempererat persaudaraan baik di Tanah Batak maupun di perantauan.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR