KURANG lebih tujuh bulan lagi rakyat Indonesia akan melaksanakan dua hajat demokrasi. Dua hajat besar yang akan berlangsung pada 17 April 2019 yakni pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg).

Pada saat itu, rakyat Indonesia yang memenuhi syarat memiliki hak untuk memilih kepala negara beserta wakilnya dan legislator serta senator atau wakil rakyat untuk DPD RI, DPR RI, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota.



Dalam prosesnya, dari sudut pandang saya, rakyat khususnya wilayah perkotaan ternyata sudah melek politik. Berita-berita dan informasi di media cetak, televisi, hingga media sosial mendominasi. Mungkin itu menjadi salah satu faktornya. Khususnya pemberitaan dan informasi seputar calon presiden dan wakil presiden.

Pilpres 2019 lagi-lagi membuat masyarakat terpecah (dalam konteks sikap politik). Tak sedikit pula hoaks dan kampanye negatif menjadi bumbu penyedap bincang politik di kalangan masyarakat. Baik di masjid atau mungkin juga tempat peribadatan lainnya ramai membincangkan siapa calon presiden dan wakil presiden pilihannya.

Seperti di daerah tempat tinggal saya. Dalam setiap perbincangan, ada saja bahan obrolan yang mengaitkannya ke salah satu figur calon presiden maupun calon wakil presiden.

Mulai dari hal baik hingga dosa-dosanya pun tak luput dari pengamatan dan perbincangan. Calon A dibekingi ini, calon B dibekingi itu, dan lain sebagainya. Calon A dosanya itu, calon B dosanya begitu. Kurang lebih seperti itu cara saya menggambarkannya. Mungkin hal ini juga terjadi di sekitaran tempat tinggal atau lingkungan kantor Anda.

Dalam negara penganut paham demokrasi, berbeda pilihan politik tentulah menjadi hal lumrah. Yang terpenting jangan sampai Pilpres 2019 justru memutus ukhuwah islamiah, apalagi sampai membuka aib-aib sesama umat Islam khususnya. Bukan kah itu dilarang?

Menurut Imam Hasan Al-Banna, ukhuwah islamiah (persaudaraan Islam) adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan akidah. Ukhuwah islamiah adalah satu dari tiga unsur kekuatan yang menjadi karakteristik masyarakat Islam di zaman Rasulullah. Pertama, kekuatan iman dan akidah. Kedua, kekuatan ukhuwah dan ikatan hati. Ketiga, kekuatan kepemimpinan dan senjata.

Dengan tiga kekuatan ini, Rasulullah saw membangun masyarakat ideal, memperluas Islam, mengangkat tinggi bendera tauhid, dan mengeksiskan umat Islam atas muka dunia kurang dari setengah abad. Selain itu, kita juga tentulah harus saling bertoleransi atas perbedaan pilihan. Sebab. Islam merupakan agama rahmatan lilalamin (agama yang mengayomi seluruh alam). Islam menawarkan dialog dan toleransi dalam bentuk saling menghormati.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR