LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 9 July
9239

Tags

RESPONSIVE ADS
LAMPUNG POST | Toleransi Anak Menteng (2)
Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama memberi sambutan dalam Kongres Diaspora Indonesia ke-4 di Jakarta, Sabtu (1/7/2017). ANTARA/Rosa Panggabean

Toleransi Anak Menteng (2)

BERLALU sudah Barack Hussein Obama dan keluarga mengunjungi tanah air keduanya setelah Negeri Paman Sam. Liburan Presiden ke-44 Amerika Serikat (AS) itu menjadi renungan sehingga Indonesia memetik manfaat dari hasil lawatannya. Paling tidak Obama menitip pesan kebangsaan agar negara kelahiran ayah tirinya, Lolo Soetoro, ini menjadi lebih baik lagi.
Obama juga tak hanya tertarik pada panorama alam, ternyata dia mencintai budaya dan karakter bangsa berpenduduk mayoritas muslim ini. Decak kagum disampaikannya dalam sesi pembukaan Kongres Ke-4 Diaspora Indonesia di Jakarta, Sabtu (1/7/2017). Pidato anak SDN 01 Menteng, Jakarta, itu mengamanatkan tujuh pesan yang harus direnungkan bangsa Indonesia.
Pertama, rakyat Indonesia menghindari diskriminasi serta segregasi keagamaan. Kedua, bangsa ini menguatkan pilar-pilar demokrasi sebagai kunci persatuan bangsa. Ketiga, negeri ini harus mengedepankan keadilan gender serta memperlakukan perempuan secara adil.
Pesan keempat, mantan Presiden Amerika itu memberikan kiat menjaga stabilitas negara. Dia mencontohkan Pemerintah Indonesia harus bekerja efektif, menghentikan korupsi, mematuhi hukum, memperkuat ekonomi, menyejahterakan anak, pemuda, dan perempuan. Dan, paling penting, elite politik berkompetisi secara sehat dan bermartabat.
Kelima, bangsa Indonesia juga berkomitmen menanggulangi fenomena perubahan iklim global. Jakarta, misalnya, kata dia, telah mengaplikasikan transportasi massal untuk menekan penggunaan kendaraan pribadi. Itu mampu menyumbang emisi gas buang yang sangat besar. Keenam, bangsa ini harus mampu berdikari melakukan perubahan ke arah lebih baik.
Terakhir, Obama menyampaikan pesan khusus setiap warga negara dan diaspora Indonesia membiasakan diri berbuat kebaikan. Dalam pidatonya, Obama juga menyinggung orang tuanya, Lolo Soetoro, yang berkebangsaan Indonesia. "Ayah tiri saya, ayah Maya, ialah seorang muslim. Namun, ia sangat menghargai orang Hindu, Buddha, dan Kristen," kata Obama.
Ayah dari Malia dan Sasha ini menyebutkan semangat toleransi di negeri ini harus dijaga agar menjadi contoh bagi negara muslim lainnya. Baginya, anak-anak muda harus berani melawan intoleransi, sebab mereka yang menentukan nasib negara dan dunia ini ke depannya. Salah satu tantangan menjaga toleransi datang dari komunikasi modern.
Di era sekarang, anak muda sangat mudah mengakses berita. “Kita lihat perkembangan saat ini, banyak berita palsu atau kabar bohong yang rentan dipolitisasi," kata Obama. Makanya bangsa ini harus cerdas dan kreatif menghadapinya. Jika tidak, akan terjadi perpecahan. Masa depan bangsa bergantung pada orang-orang yang sadar pluralisme, menghargai hak asasi manusia, dan toleransi.
Wujud intoleransi kian meruyak bangsa ini. Seorang jemaah masjid tidak ingin mendengarkan siraman rohani hanya karena penceramahan agama dinilai mengobarkan rasa permusuhan sesama anak bangsa. Lalu ada juga rumah ibadah dikotori gara-gara penolakan terhadap jemaah mengajarkan agama diluar kebiasaan di lingkungan masyarakat.   

***

Bangsa ini jangan pernah takut dan lelah memperkuat pluralisme seiring makin gencarnya praktik intoleransi dan radikalisme. Mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Azyumardi Azra mengatakan bangsa ini jangan meremehkan letupan kelompok radikal intoleran. Jika dibiarkan, mereka akan merusak fondasi keberagaman bangsa.
Pemuka agama dan tokoh masyarakat jangan terkesan merestui kelompok ini dengan mengeluarkan pernyataan tidak bijak. Pernyataan Azyumardi itu sangat masuk akal. Aksi teror di negeri tak pernah berhenti, bahkan tak kenal waktu dan tempat. Seperti teror penyerangan terhadap polisi di Mapolda Sumatera Utara beberapa jam sebelum salat id, Minggu (25/6/2017). Akibatnya, polisi itu meninggal dunia ditusuk senjata tajam.
Tidak sampai sepekan, teror pun terjadi di jantung kantor polisi—Mabes Polri. Dua anggota Brimob ditusuk terduga teroris usai salat isya di Masjid Bhayangkara, Jumat (30/6/2017). Bahkan, bom bunuh diri meledak di Kampung Melayu, Rabu (24/5/2017), menewaskan lima orang. Tiga orang lainnya adalah anggota polisi yang lagi berdinas di jalan raya. Aparat keamanan dibuat seperti itu, apalagi rakyat yang tidak mengerti apa-apa. Apalah jadinya!
Pesan keempat Obama tadi patut direnungkan. Anak bangsa di negeri ini haruslah introspeksi diri. Mungkinkah menjamurnya gerakan radikal dan aksi intoleransi di bumi Indonesia karena sikap pejabat, aparat, juga elite politik, membuat frustrasi masyarakat.
Masih ada juga korupsi dan pungli dilakukan pejabat—uang rakyat disandera dan dicaplok. Belum lagi tindak pejabat dan aparat yang tidak taat hukum dan peraturan dengan mengatasnamakan rakyat. Tapi, di balik itu, ada kepentingan pribadi yang menggunung—dengan sistematis menguras duit rakyat. Anak bangsa sangat lelah melihat aparatur yang mempermainkan aturan, mengutak-atik pasal dalam undang-undang, pasal di kitab hukum pidana, dan perdata hanya untuk melanggengkan kursi jabatan.
Jangan salahkan rakyat jika terjadi perlawanan. Masyarakat tidak suka melihat pemimpinnya yang tidak memberi contoh baik dalam mengelola negara dan daerah. Pemimpin harus teladan kehidupan beragama juga berbangsa. Mengumandangkan Bhinneka Tunggal Ika, tetapi hari-harinya menjalankan praktik primordialisme. Lain di mulut, lain pula perbuatan. Manusia seperti ini menjadi bahan cemooh anak bangsa.
Sejak dulu negeri ini membuktikan tidak suka berkonflik agama. Candi Borobudur dan Candi Prambanan, peninggalan Buddha dan Hindu, masih berdiri kokoh dan dilestarikan di tengah masyarakat muslim. Masjid dan gereja dibangun hanya beberapa meter di Jakarta antara Istiqlal dan Katedral. Di Kota Bandar Lampung, di depan mata hanya seberangan jalan, berdiri Masjid Taqwa dan Gereja Katedral Kristus Raja.  ***

LAMPUNG POST

BAGIKAN


TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv