BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)---Pembangunan jalan tol trans-Sumatera (JTTS) di Lampung terus berjalan. Moratorium pemerintah seluruh proyek konstruksi infrastruktur layang (elevated) tidak mengganggu proyek itu.  

Pemimpin Proyek PT Hutama Karya paket I dan II Slamet Raharjo mengaku pekerjaan pembangunan masih berjalan normal. Pihaknya belum mendapat arahan ataupun surat edaran dari pusat.
Pihaknya hanya diminta metode kerja dan keselamatan kerja, terutama untuk pengangkatan balok jembatan. "Baru permintaan metode kerja, jadi kami akan minta kontraktor dan konsultan menyiapkan dokumen yang diminta Pemerintah Pusat," kata dia saat dihubungi Media Indonesia (grup Lampung Post), Selasa (20/2).
Dia mengatakan pembangunan JTTS di Lampung tidak ada jembatan yang terlampau tinggi dan panjang. Senada dengan itu, Manajer Teknik PT Waskita Karya Marsesa Edward mengatakan pembangunan sekitar 14 overpass di jalan tol titik 39+400 sampai 80+000 masih berlangsung seperti biasa. "Kebetulan di baxter kami tidak ada jembatan tinggi dengan risiko besar. Paling panjang 40 meter dan tinggi hanya 7 meter," kata dia.
Seperti diketahui, pemerintah memutuskan untuk menghentikan sementara seluruh proyek konstruksi elevated. Kebijakan itu berlaku untuk pembangunan jalan tol, light rail transit (LRT) serta jembatan yang tengah dijalankan. Keputusan itu diambil pascatragedi jatuhnya bekisting pierhead pada proyek pembangunan ruas tol Bekasi—Cawang—Kampung Melayu (Becakayu) yang dikerjakan PT Waskita Karya.
Menteri PU-Pera Basuki Hadimuljono mengatakan pihaknya sepakat untuk menghentikan sementara pekerjaan pembangunan infrastruktur layang yang berat di seluruh Indonesia, mulai tol di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, jembatan di Papua, LRT yang seluruhnya elevated. "Kami akan evaluasi lebih dahulu secara menyeluruh, desainnya, metodologi kerjanya, standar operasional prosedurnya, sumber daya manusianya, peralatannya, bahkan pengawasnya," ujar Basuki di kantornya, Selasa (20/2).
Namun, ia menekankan penghentian pengerjaan infrastruktur hanya berlaku pada proyek yang memiliki struktur layang. Sementara pembangunan lainnya, seperti bendungan, pembangunan tol di atas tanah, pengaspalan, dan lain sebagainya tidak akan dihentikan.



Rombak Direksi
Terkait kejadian ambruknya sejumlah jalan layang dari proyek konstruksi pemerintah, Menteri BUMN Rini Soemarno menegaskan pihaknya tidak segan merombak jajaran direksi BUMN Karya. Hal itu dilakukan jika terbukti lalai dalam pembangunan infrastruktur hingga mengakibatkan korban jiwa. "Itu pasti akan dievaluasi," ujarnya.
Lebih perinci, Deputi Bidang Usaha Konstruksi dan Sarana dan Prasarana Perhubungan (KSPP) Kementerian BUMN Ahmad Bambang mengatakan pihaknya akan mengevaluasi Waskita Karya.
"Kalau terbukti salah, board of direction (BOD) ya diganti. tetapi belum tentu semua kan. Ini kami masih akan tunggu hasil dahulu," ujar Ahmad.


 

EDITOR

Iyar Jarkasih

TAGS


KOMENTAR